Friday, December 06, 2013

Perang Menyelamatkan Manusia, Ender's Game

Rasanya review ini sedikit terlambat karena booming buku ini lewat filmnya sudah lewat beberapa minggu yang lalu. Akan tetapi, aku berpendapat bahwa buku bagus pantas untuk dikenalkan, terlepas animo pasar yang mungkin sudah lewat. Pembuatan review buku ini memang sedikit lebih susah daripada biasanya karena aku sangat jarang membaca science-fiction, tetapi karena buku ini memang keren aku memaksa diriku untuk menulisnya. Terlebih lagi, buku ini masih banyak di toko buku. Jadi, kita masuki saja Ender's Game, Orson Scott Card.

Ini adalah bumi di masa depan. Umat manusia bersatu dan melupakan peran antar sesamanya setelah umat manusia hampir disapu bersih oleh invasi makhluk luar angkasa, yang disebut Bugger (atau Formic, terserah kalian deh). Bugger adalah makhluk berakal seperti manusia, tetapi berbentuk serangga dan memiliki pikiran kolektif layaknya semut atau lebah. Kedatangan pertama para Bugger disebut sebagai Invasi Pertama, dan inilah saat ketika manusia mengetahui keberadaan makhluk berakal selain mereka. Walaupun Invasi Pertama berhasil dihentikan, beberapa puluh tahun kemudian para Bugger melancarkan serangan besar-besaran yang disebut sebagai Invasi Kedua. 

Para Bugger memiliki teknologi yang jauh lebih maju daripada manusia. Satu-satunya alasan umat manusia masih selamat adalah karena mereka memiliki komandan perang paling brilian di masa itu, Mazer Rackham, yang berhasil mengalahkan para Bugger dengan strategi. Sejak saat itu, umat manusia menunggu dengan takut akan tibanya waktu ketika para Bugger menyerang lagi. Kekhawatiran inilah yang melatarbelakangi kuatnya posisi International Fleet (IF), yang terdiri dari militer seluruh dunia dan melakukan berbagai cara untuk menemukan solusi dalam melawan para Bugger. Perang Bugger juga mengakomodasi keberadaan Hegemoni, pemerintahan gabungan seluruh dunia, yang memastikan setiap negara 'bersikap baik' dan mengakomodasi usaha perlawanan Bugger.

Salah satu aturan utama yang diterapkan Hegemoni adalah Hukum Pembatasan Populasi yang dengan tegas melarang sebuah keluarga memiliki lebih dari dua anak. Anak ketiga, disebut sebagai Third, tidak dapat menerima pendidikan ataupun fasilitas apapun dari pemerintah. Keluarga, atau bahkan negara, yang tidak patuh akan terasing dan tidak mendapat bantuan dari Hegemoni.

Selama bertahun-tahun, IF merekrut anak jenius dari seluruh penjuru dunia untuk bergabung dengan fasilitas pelatihan militer mereka, Battle School, yang bertujuan untuk menciptakan anggota-anggota militer yang tangguh. Akan tetapi, tidak hanya sekedar prajurit, tujuan utama Battle School adalah menciptakan seorang komandan perang, seorang Mazer Rackham baru, yang akan memimpin militer dunia dalam mempertahankan bumi dari para Bugger.  Betapa ironisnya ketika solusi keselamatan manusia ini justru datang dalam bentuk anak yang tidak diakui pemerintah, dalam wujud seorang Third. 


Andrew "Ender" Wiggin adalah anak ketiga dalam keluarganya, seorang Third. Akan tetapi, ia berbeda dengan Third yang lain karena kelahirannya adalah atas izin pemerintah. Kedua kakak Ender, Peter dan Valentine, memiliki kecerdasan luar biasa, tetapi memiliki kekurangan karakter bagi militer. Peter dianggap terlalu kejam dan Valentine terlalu lembut dan bersimpati. Pemerintah meminta orang tua Ender untuk memiliki anak ketiga, yang diharapkan memiliki kecerdasan kedua kakaknya, tetapi dengan karakter yang merupakan gabungan mereka berdua. Seorang yang mampu bersimpati kepada musuhnya hingga memahami mereka, dan mampu menggunakan pengetahuan itu untuk menghancurkan mereka. Itulah komandan yang dibutuhkan umat manusia. Dan semuanya ada pada diri seorang Ender Wiggin. 

Ender memilih masuk ke Battle School demi keluarganya, agar orang tuanya tidak terbebani oleh keberadaan seorang Third, dan (yang terpenting) karena ia "tidak akan membiarkan para Bugger itu menyakiti Valentine". Seorang anak enam tahun meninggalkan keluarganya, hanya dengan satu ikatan yang mengikatnya ke bumi; kakaknya, Valentine. Ia meninggalkan bumi untuk masuk ke sebuah medan tempur yang tidak ia pahami. 

Apakah Kolonel Hyrum Graff, orang yang merekrutnya sekaligus Kepala Sekolah Battle School, adalah lawan atau kawan? Batle School adalah sekolah dimana setiap murid saling bersaing satu sama lain, tetapi kenapa Ender merasa bahwa walaupun anak-anak lain iri dan bersikap tak menyenangkan kepadanya, mereka bukanlah lawan sebenarnya. Karena dibelakang mereka Kolonel Graff memainkan benang yang mengasingkan Ender, memaksa Ender melawan mereka, bahkan memanipulasi perasaan Ender sendiri. Semua ini untuk menciptakan Ender sebagai komandan perang terhebat sepanjang sejarah, dengan menggerus dan membentuk ulang jiwanya, sehingga hampir tidak ada yang tersisa dari anak enam tahun yang menangisi kakak perempuannya. Apakah Ender akan membiarkan dan menerimanya? Apakah ia akan terus melanjutkan permainan ini, ketika batas antara permainan dan kenyataan semakin kabur, dan ketika sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang ia perjuangkan selama ini.

Kalau kalian sudah nonton filmnya, atau hanya sekedar membaca ringkasan di sebagian besar review atau sinopsis di belakang buku, kalian akan menganggap bahwa isi buku ini adalah perang bintang antar-ras Bugger vs manusia atau sejenisnya. SALAH BESAR wahai kawan-kawan penikmat buku sekalian. Itulah mengapa aku menganggap bahwa walaupun adaptasi filmnya lumayan bagus (selevel HP, walau masih kalah dari LotR atau HG), emosi di film itu cuma secuuuuiiiilll dari bukunya. Tema utama buku ini adalah tentang seorang anak yang diisolasi oleh kekuasaan dan kejeniusan, "dilindas", dan "digiling" oleh militer demi kemenangan di medan perang. Tidak hanya Ender, ini juga dialami oleh semua anak di Battle School. Mereka dibentuk dan dikendalikan oleh militer untuk menciptakan para prajurit jenius yang terbaik, hingga tidak ada lagi masa kecil yang tersisa, tidak ada lagi anak-anak di Battle School, hanya para jenius militer. Jika sebagian buku berbicara tentang kekejaman perang, buku ini lebih menekankan tentang bagaimana kehidupan militer dan perang dapat mengubah karakter, terutaman jika anak-anak yang terjebak disana.

Buku ini cenderung penuh aksi dibandingkan buku-buku selanjutnya. Aksi di Ruang Pertempuran memang keren, walaupun jujur saja aku baru akhirnya benar-benar memahami visual Ruang Pertempuran ketika menonton filmnya. Salah satu visual paling keren di film adalah simulasi pertempuran dimana Ender memimpin Armada lewat alat komunikasi ansible. Bagian akhir ini juga merupakan bagian paling penuh aksi di buku, yakni bagian yang merupakan latihan terakhir Ender dalam persiapannya melawan para Bugger (*cough, aku tidak mau membuka spoiler utama ini). 

Akan tetapi, aksi itu bukan apa-apa dibandingkan unsur science fiction utama di buku ini; ansible dan perjalanan antar bintang. Ansible adalah alat komunikasi yang memungkinkan informasi ataupun suara dikirimkan jauh lebih cepat daripada cahaya, hampir instan. Alat ini terinsipirasi dari pikiran kolektif para Bugger yang mampu berbagai informasi secara instan walaupun terpisah puluhan tahun cahaya. 

Unsur kedua yang jauh lebih keren adalah perjalanan antar bintang dan dampak relativitasnya pada orang yang dalam perjalanan. Perjalanan antara satu planet ke planet lain dapat memakan waktu bertahun-tahun bagi orang yang menunggu di planet, tetapi bagi orang yang dalam perjalanan waktu mungkin hanya berlalu selama beberapa bulan. Menempuh perjalanan antar bintang dapat memperpanjang usiamu, tetapi juga membuatku kehilangan orang yang kau sayangi karena mungkin saja saat kau melangkahkan kakimu ke planet baru, puluhan tahun sebenarnya telah berlalu sehingga semua orang yang kau sayangi mungkin telah mati. Coba bayangkan betapa kerennya konsep ini (^_^). 

Akhir buku ini sangat emosional. SANGAT, Anda sudah diperingatkan. Bumi hampir jatuh ke perang antar sesama lagi, walau berhasil dihindari, dengan keterasingan Ender sebagai bayarannya. Ia tidak akan pernah dapat kembali ke bumi lagi, terasing selamanya, karena tidak ada satu negarapun yang ingin sang komandan perang terhebat sepanjang sejarah ini berpihak kepada suatu negara tertentu. Ini bukan apa-apa dibandingkan rasa bersalah Ender. Ia sangat bersimpati kepada para Bugger, begitu memahami mereka sehingga mampu mengalahkan mereka, tetapi dengan bayaran perasaannya sendiri. Terutama ketika ia menemukan kenyataan tentang para Bugger. Perjalanan Ender mencari kedamaian akan berlangsung sangat lama, hingga ribuan tahun, dan sekali lagi kita mendapat pelajaran tentang mahalnya bayaran yang diminta oleh perang.

Untuk yang terakhir, aku tidak percaya aku hampir lupa mengulas tentang side story Peter dan Valentine. Kedua anak jenius, yang walaupun dianggap tidak dapat masuk Battle School, ternyata mampu mempengaruhi dunia dengan cara mereka sendiri. Sebagian besar kisah Peter dan Valentinte ini digambarkan dari sudut pandang Valentine, dan sangat menarik. Side story in mencangkup berbagai masalah dan konflik sosial dan politik di buku ini. Lengkap 'kan? 

Ender's Game sebenarnya adalah sebuah awal dari tetralogi. Akan tetapi, cerita buku ini lebih berdiri sendiri, baru ketiga buku setelah ini yang sangat terkait secara langsung. Buku setelah ini lebih membahas masalah sosial, minus aksi, sebuah fiksi ilmiah yang berbeda genre dengan Ender's Game. Jika aku boleh menyarankan, bacalah buku kedua serial ini; Speaker for the Dead. Buku ini keren dan sangat emosional. Akan tetapi buanglah kedua buku setelahnya. kenapa? #sigh hanya ini jawabanku -_-

Info tambahan, jika kalian masih penasaran dengan berbagai kisah setelah Ender's Game, bacalah serial paralelnya, yakni Shadow Saga. Setelah yang aku maksud di sini adalah benar-benar setelah, yakni setelah Perang Bugger berakhir. Kalian hanya dapat jawabannya di serial ini karena Speaker for the Dead berjarak TIGA RIBU tahun dari Ender's Game, galaksi dan umat manusia sudah berubah. Apakah kalian penasaran dengan nasib rekan-rekan Ender? Bagaimana bumi setelah Perang Bugger? Ender dan Valentine telah pergi, tetapi bagaimana dengan Peter? Yup, kisah di serial Shadow Saga ini sangat luar biasa; dengan tokoh utama Bean, dan Petra. Bertemakan masa pasca perang dan kisah kebangkitan Peter menjadi sang Hegemon legendaris. Peter? Yep, mungkin kalian tidak suka Peter, jangan berpendapat sebelum membaca serial ini.

Akhir kata, jika kalian penggemar fiksi yang belum berkenalan dengan Enderverse, masuklah sekarang. It worth every second, trust me! (well, I guess except the last two books in Ender Saga).

Artikel Terkait :




4 comments:

  1. hai, aku sdh baca review mu ttg enders game, dan penasaran bgt formic itu sebenanrnya baik atau jahat ya? krn di ending film dya gak menyakiti ender ketika ender datang ke tmpt formic itu, tp knp dya menyerang bumi ya? itu yg bikin aku bingung, q tunggu balasannya, smoga dapet pencerahan,trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf nih baru balas, karena sedang jarang buka blog. ini pertanyaan yang hanya bisa dijawab jika baca buku.

      Singkatnya, bangsa Formic itu seperti sebuah ras yang sering melakukan ekspansi ke luar angkasa, dan saat itu mereka menemukan bumi. Masalahnya: mereka tidak tahu bahwa manusia itu adalah ras berakal budi seperti mereka. mereka kira manusia hanyalah seperti binatang lokal. Terutama karena mereka tidak bisa komunikasi dengan manusia. Itulah penyebab Invasi Pertama dan Kedua.

      Tapi, setelah itu mereka tahu, jadi mereka tidak pernah kembali lagi. Masalahnya manusia mengira ras Formic memang ingin menghancurkan mereka sehingga mereka melakukan serangan balik SETELAH ras Formic menyadari kesalahan mereka. Inilah penyebabnya: salah paham dan ketidakmampuan berkomunikasi.

      Quotenya kayak gini kurang-lebih di buku (maaf sedang nggak bawa buku):
      'Kami tidak tahu bahwa makhluk yang hidup sendiri-sendiri dan terpisah ternyata bisa memiliki mimpi dan harapan. tetapi setelah kami tahu, kami tak pernah kembali lagi"

      Semoga mencerahkan ^_^

      Delete
  2. kak, kira"buku ender's saga sama shadow saga dijual di gramedia ngga ya ?
    kalo ngga ada terus dimana aku bisa nemuin buku-buku ini ?
    makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ender's Game sudah terbit di Gramedia. Nah, untuk buku selanjutnya belum ada kabar apakah akan diterjemahkan juga atau tidak.
      Untuk Shadow Saga akan sangat tergantung apakah lanjutan Ender's Game akan diterbitkan dalam b.Indonesia atau tidak. Saya kok sangsi buku2 in akan diterjemahkan.

      Kalau bersedia untuk baca edisi bahasa inggris, saya punya ebook nya. Silakan email saja :)

      Delete