Wednesday, April 13, 2011

Sebuah Sisi Lain Sejarah Cina, Empress Orchid

Sisi lain sejarah Cina, itulah inti dari novel ini. Sebuah novel yang menuliskan kisah seorang tokoh besar Cina yang justru dicatat oleh mayoritas sejarah sebagai penyebab kejatuhan Kekaisaran Cina. Permaisuri Tzu Hsi, yang juga dikenal sebagai Ratu Anggrek.

Inilah kisah dibalik tembok Kota Terlarang di masa-masa akhir Kekaisaran Cina. Ditulis dengan detail dan indah dalam novel yang berjudul Empress Orchid, karya Anchee Min.

Tzu Hsi, dikenal sebagai Anggrek saat kecil, terlahir dari klan Yehonala, sebuah klan terpandang bangsa Manchu. Cina di masa ini adalah Cina yang tak stabil dan terus bergolak. Pemberontakan terjadi dimana-mana. Ketika gubernur-gubernur daerah tak mampu mengatasinya, nyawa mereka diminta sebagai pertanggungjawaban. Ayah Anggrek tidak luput dari masalah ini. Keluarga mereka pun jatuh miskin karena beban hidup dan hutang yang bertumpuk.

Anggrek dan keluarganya yang tersisa, ibunya, adik lelakinya, dan adik perempuannya meninggalkan kota kelahirannya, Wuhu, dan memasuki Peking untuk memakamkan ayah mereka. Kehidupan mereka di Peking tetap sulit. Pekerjaan sulit didapatkan dan hutang terus bertumpuk. Beruntung, Anggrek mendapatkan pekerjaan dari seorang wanita Manchu yang ia panggil kakak Fann. Kakak Fann adalah mantan pelayan Istana. Dari ia-lah Anggrek mengetahui berbagai intrik kerajaan dan deskripsi Kota Terlarang, yang kelak akan ia tinggali seumur hidupnya.

Takdir Anggrek dan keluarganya mencapai titik balik saat Istana mengadakan pemilihan untuk istri Kaisar Hsien Feng. Keberaniannya untuk mengambil resiko saat pemilihan membuat ia terpilih menjadi salah seorang dari tujuh selir Sang Kaisar. Saat ini juga ia mengenal An-te-hai, kasim yang akan menjadi pelayannya yang paling setia, dan Nuharoo, yang terpilih menjadi Istri Pertama Kaisar, yang akan menjadi partnernya selama bertahun-tahun.



Kota Terlarang adalah tempat dimana intrik dan konspirasi terjadi. Tak ada yang dapat dipercaya dengan mudah. Salah langkah dapat berarti mati. Hal ini menjadi semakin jelas ketika Anggrek berhasil memikat hati sang Kaisar dan menjadi selir kesayangan. Anggrek dapat merasakan ketika kecemburuan dan ancaman dari selir-selir lain berdatangan, dibungkus dengan hadiah dan ucapan selamat. Situasi menjadi semakin rumit saat ia melahirkan putra bagi Kaisar, satu-satunya pewaris takhta, yang akhirnya memberikannya kedudukan yang sama dengan Nuharoo sebagai permaisuri.

Tetapi, Anggrek tidak hanya dipaksa untuk menghadapi ancaman dari dalam Kota Terlarang. Posisinya yang selalu berada di sisi Hsien Feng membuat Anggrek tergerak untuk membantu suaminya dalam menghadapi masalah Cina. Kekaisaran Cina sedang menghadapi kehancuran yang perlahan, tetapi pasti. Kekalahan Cina dalam perang Opium, ganti rugi yang harus dibayar, perjanjian yang dipaksakan, dan rongrongan tanpa akhir dari negara-negara asing membuat Hsien Feng semakin putus asa. Banyak saat dimana Anggrek mengambil alih pembuatan dekrit saat sang Kaisar enggan untuk berbuat sesuatu. Berkali-kali Anggrek merasa depresi saat para bangsawan Manchu mengenyampingkan orang-orang Cina Han yang berkompeten. Ketertarikannya untuk membantu suaminya ini juga membawanya perhatiannya kepada dua lelaki yang paling berpengaruh di Dewan Istana, Penasihat Agung Su Shun dan saudara tiri Hsien Feng, Pangeran Kung.

Titik balik kedua dalam hidup Anggrek terjadi ketika kematian suaminya. Kudeta yang dicoba dilancarkan Su Shun menggucang proses suksesi. Berkat Pangeran Kung, Su Shun dan kelompoknya berhasil dikalahkan. Tetapi, dilema hidup Anggrek justru baru dimulai. Selisih pendapat yang sering terjadi antara dirinya dan Nuharoo. Kesedihan di hatinya saat putranya, Tung Chih, lebih memilih Nuharoo. Penyesalannya melihat betapa tak siapnya putranya untuk menjadi kaisar. Dan pada akhirnya, cintanya pada Yung Lu yang harus dikorbankannya demi tugas dan perannya untuk Cina. Semua ini menyertai Anggrek saat ia memulai langkah baru sebagai Wali bersama Nuharoo untuk putranya, sebagai Maharani dan tumpuan harapan Cina.

Waduh, susah juga membuat sinopsisnya. Soalnya, semua bagian novel ini penting banget dan terus mengalir menjadi sebuah kisah. Seperti membaca buku biografi yang ditulsi oleh tokohnya sendiri, atau bahkan lebih dari itu lagi. Aku harus berkali-kali mengingatkan diriku bahwa ini bukan buku yang ditulis oleh Tzu Hsi sendiri. Penjabaran begitu detail karena Anchee Min memang nggak main-main dalam penulisannya. Ia melakukan berbagai riset ke sumber-sumber sejarah asli untuk datanya. Padahal, kita tahu bahwa pemerintah Cina bukan tipe yang akan membantu dengan mudah.

Membaca buku ini benar-benar memberikan sudut pandang yang baru bagiku dalam memandang sejarah Cina. Anchee Min mengkritik budaya di negaranya yang selalu mendiskreditkan peran perempuan dalam sebuah kejadian. "Setiap anak di Cina diajari bahwa kejatuhan sebuah dinasti disebabkan oleh perbuatan selir," katanya dalam wawancara yang ditulis di belakang Empress Orchid Collectible edition. 

Sebagai orang luar, aku juga memahami hal itu. Dalam buku sejarahku, pemberontakan yang terjadi di masa itu disebut terjadi karena "ketidakmampuan dinasti Cina Kuno terakhir dalam memerintah". Tak disebut-sebut sama sekali tentang perbuatan invasi bangsa asing, bagaimana mereka meracuni masyarakat Cina dengan candu, dan berbagai tekanan yang mereka lakukan. Sebagai warga negara yang pernah dijajah dan menerima perlakukan yang kurang-lebih sama, aku amat memahami hal ini. Semua ini, ditambah dengan keindahan kisahnya, membuat kita ingin terus melanjutkan.

Sebuah akhir dari awal itulah novel ini. Sebuah awal dari masa Permaisuri Tzu Hsi. Masa kepemimpinan yang sebenarnya ia jalani dengan enggan. Ketika ia berusaha mendamaikan pihak-pihak bersertu. Dan usah heroiknya menjada Cina tetap utuh sampai akhir hayat. Kisahnya akan dilanjukan Anchee Min dalam The Last Empress.

Artikel Terkait :




No comments:

Post a Comment

Post a Comment