Tuesday, June 04, 2013

Dan Brown's INFERNO

Hm, seharusnya aku sekarang mengoreksi tumpukan tugasku sebagai grader. Tetapi karena mood sedang nggak bagus, sepertinya lebih enak menulis resensi dan ulasan buku yang dijuluki "The hottest book in this year". Yup, tulisanku kali ini akan mengulas INFERNO, buku terbaru Dan Brown yang baru saja terbit 15 Mei kemarin.

Karena buku ini belum terbit edisi Indonesianya, ulasan kali ini aku akan mencoba seobjektif  mungkin tanpa memberi terlalu banyak detail isinya karena tentunya banyak dari Anda yang belum membacanya. Spoiler pasti mengacaukan pengalaman membaca buku Dan Brown, tetapi tetap saja tulisan ini memiliki kemungkinan SPOILER ALERT!!! (anda sudah diperingatkan! ^_^)

Inferno dimulai dengan sangat mengentak ketika kita bertemu dengan tokoh utama kita yang tercinta, Robert Langdon, di sebuah rumah sakit. Kondisi menjadi semakin rumit ketika ternyata Langdon tidak ingat bagaimana ia berakhir di rumah sakit. Yah, ia menduga dirinya ada di Massachusetts, ketika pada kenyataanya ia berada ribuan kilometer dari tempat itu. Yup,ia ada di Florence, Italia, dan ia tidak ingat bagaimana ia dapat berada di tempat itu ketika ingatan terakhirnya adalah pergi ke kampusnya, Harvard, untuk mengajar. 

Tanpa dapat ia ingat, sebenarnya Langdon (lagi-lagi) terjebak dalam sebuah skema yang dirancang oleh seorang jenius yang ingin mengubah tataran dunia. Menuju tataran dunia yang lebih baik, menurut orang itu, tetapi sebuah bencana tak termaafkan menurut orang lain.

Apakah Langdon dapat mencegah bencana bernama INFERNO itu dilepaskan ke dunia? Dengan bantuan Dr. Sienna Brooks, dokter yang telah menyelamatkan nyawanya, Langdon berusaha menemukan jawaban; mengapa tiba-tiba ia berada di Florence? siapa wanita yang ada di mimpinya? kenapa saat ditemukan oleh pihak rumah sakit ia menggumamkan "very .... sorry.....", dan yang paling penting MENGAPA ia pergi ke Florence pada awalnya? Semua pertanyaan ini harus dijawab ketika Langdon sedang dikejar oleh sebuah organisasi kriminal internasional yang berusaha sedapat mungkin untuk memperoleh sesuatu yang dimiliki oleh Langdon.


Jadi, apa opini pertamaku setela selesai membaca buku ini? Well, menggunakan ungkapan Dr. McCoy (dasar Trekkie yang masih kena demam Star Trek!) opiniku adalah: Dammit Mr. Brown!!! Serius, buku ini tidak memenuhi ekspektasinya sebagai the most waited book of this year. Aku nggak percaya aku menyatakan ini, tetapi aku berpendapat bahwa buku ini adalah salah satu karya Dan Brown yang terjelek dari segi ketertarikan atas tema. Tema yang aku bahas di sini adalah latar belakang sejarah Dante, Inferno, dan tiba-tiba mengarah ke penyakit dan populasi manusia.

Awal buku ini sebenarnya sangat menjanjikan. Buku ini bukan diawali oleh pembunuhan atau sesuatu seperti itu, tetapi tiba-tiba saja *BUM* tokoh utama kita yang tercinta, Robert Langdon, langsung dihadapkan pada kondisi kritis dimana nyawanya sudah terancam bahkan sejak Bab 2! Lalu, masih ada lagi mimpi misteriusnya. Semua ini sudah cukup untuk membuat kita bertanya-tanya. 

Akan tetapi, semua rasa penasaran kita pelan-pelan tergerus seiring dengan penelusuran yang dilakukan oleh Langdon dan Dr. Brooks. Masalah terbesar pada buku ini menurutku adalah "pengkhianatan ekspektasi" dan "ketidakfokusan" tema Inferno. Kedua masalah ini dapat dijelaskan pada pertanyaan ini: Dante's Inferno sebenarnya dipakai untuk apa? 

Sejak awal promosi Dan Brown sudah menyatakan bahwa buku ini akan terinspirasi oleh Inferno, part 1-nya Divine Comedy by Dante. Pada kenyataanya, puisi itu hanya sekedar dicatut oleh Brown. Sekedar dicatut mungkin tidak masalah jika bagian yang dikutip memang penting. Akan tetapi, kondisi yang terjadi adalah Inferno memang hanya sekedar tempelan hanya karena kebetulan Sang Antagonis amat menggemari Inferno-nya Dante dan menggunakannya sebagai petunjuk bagi Langdon. Cerita mungkin akan jadi lebih baik jika memang fokus pencarian Langdon menyusuri petunjuk sang Anatagonis menjadi Dante-related, tetapi pada kenyataannya Dante dan Inferno-nya hanya kita temui sedikit sekali.

Ini adalah masalah besar karena kita semua ketahui bahwa "fokus tema" adalah kekuatan novel Dan Brown. Aku tidak perlu membahas Da Vinci Code yang sudah sedemikian terkenal, tetapi mari kita tengok novel Dan Brown lain. Angels and Demons sekilas terbagi menjadi dua (teknologi antimateri dan sejarah Vatikan), tetapi tema sebenarnya adalah konflik agama dan teknologi dan fokusnya adalah pada sejarah dan deskripsi Vatikan (keren!). Digital Fortress mengangkat masalah kryptologi (benar gak?) dan tema: privasi masyarakat vs keamanan nasional yang memang nyambung. The Lost Symbol murni tentang organisasi Mason, yang walaupun aku kurang suka tetap dari sisi ini sangat bagus sebenarnya. Tetapi, apa tema Inferno? Apa hubungan antara Inferno-nya Dante dan kelebihan populasi manusia? NGGAK ADA atau SEDIKIT BANGET. Ya ampun Mr. Brown, apakah tidak ada lagi masalah manusia lain yang berpotensi menyeret kita ke neraka. Walaupun harus kuakui acuan tentang Black Death itu cukup bagus.

Kelemahan lain di novel ini adalah aku tidak menikmati dekskripsi perjalanan Langdon atau belajar apa-apa dari novel ini. Berkat Dan Brown, aku jadi tertarik dan mencari fakta sebenarnya tentang, katakanlah, Mason, Vatikan, kryptologi dan segala-hal-yang-ada-di-Da-Vinci-Code (kebanyakan kalau ditulis!). Tapi, apa yang membuat aku penasaran dari novel ini dan membuatku ingin tahu lebih banyak? Hanya Inferno-nya Dante dan aku hanya ingin sekedar membacanya saja.

Namun, novel ini juga punya banyak kelebihan. Kurasa sekarang kita sudah cukup familiar dengan rumus Dan Brown: antagonis? carilah orang yang membantu Robert Langdon (walaupun jelas belum ada yang sedahsyat di Angels and Demons yah!). Jadi, kurasa Anda sudah mulai dapat menduga siapa yang jadi masalah di novel ini, walaupun kuakui pada novel ini tidak ada antagonis murni kecuali Sang Antagonis yang sebenarnya sudah mati sejak di awal novel. Kelebihan utama novel ini adalah pada kontroversi; kejadian pada ending pasti membawa banyak perdebatan apakah Anda setuju atau tidak Jujur saja, aku bahkan berpendapat bahwa mungkin ini adalah solusi bagi umat manusia, walaupun aku tidak akan pernah menyarankan hal itu (tentu saja!). 

#update
Seperti yang kita ketahui, edisi Indonesianya sudah keluar dan akhirnya aku berhasil memberikan opini yang objektif untuk novel ini. Pertama, aku mau merevisi pernyataanku yang mengatakan ini novel Dan Brown yang paling jelek (yeah, aku nggak malu mengakuinya). Aku harus mengakui bahwa thriller dan aksi di novel ini memang keren banget. Berlompat-lompat dan berkejaran dengan waktu. Rasanya nggak pernah setegang itu sejak membaca Angels and Demons. Aku juga suka dengan tidak adanya pengkhianat di sisi Langdon kali ini.

Namun, aku TIDAK merevisi opiniku tentang tema latar belakang novel ini. Aku tidak peduli dengan Dante, Inferno, atau WHO. Aku tidak berminat untuk mengetahui lebih banyak tentang mereka. Kurasa disinilah penilaian biasku. Aku merasa novel Dan Brown harus memiliki kekuatan utama pada poin ini. Setidaknya, The Lost Symbol membuatku tertarik pada Mason. 

Singkat kata, kekuatan utama dari novel ini justru pada misteri tentang INFERNO itu. Murni penulisan aksi dan misterinya. Menurutku, paling dekat membandingkan Inferno dengan Angels & Demons, dan itupun masih kurang tepat. Membandingkan karya puncak Dan Brown (Da Vinci Code, Angels & Demons) dan Inferno seperti membandingkan jeruk dan apel, atau Star Trek dan Star Wars; nggak bisa dibandingkan karena keunggulannya berbeda.

Yah, setidaknya, dari segi aksi, misteri, dan ketegangan novel ini berada di peringkat ketiga setelah Angels & Demons dan Da Vinci Code. Tetapi dari sisi kontroversi dan latar belakang kisah? Hmm, Anda punya opini masing-masing.

Oh yah, salah satu quote novel ini: The darkest place in hell are reseserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis.

Ehm, Mr Brown, apakah Anda sadar betapa penekanan pada quote ini dapat memberi Anda masalah bagi banyak pihak dengan berbagai masalah masing-masing??? (seperti saya, contohnya). Walaupun aku yakin quote ini juga banyak menyentil masalah-masalah lain.

Artikel Terkait :




20 comments:

  1. wah udah baca aja :)
    aku baru nonton filmnya aja belum tertarik baca bukunya, kok kayaknya super berat kecuali bagi yang suka cerita detektif :)

    ReplyDelete
  2. Serius nih ga sebagus impian pembaca nover Mr Brown?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sendiri berpendapat seperti itu. Saya sebagai penggemar Mr Brown yg bahkan dapat bertahan dan cukup excited membaca The Lost Symbol merasa agak kecewa dengan novel ini.

      Penggunaan dua tema yg sama dengan Angel and Demon sayangnya tidak berhasil seperti di buku sebelumnya itu. Output yang paling jelas: saya tidak tertarik untuk mendalami apapun informasi tambahan yang ada diangkat Mr Brown ^_^

      tapi itu mungkin karena saya membaca edisi asli. kritik lebih keras menunggu edisi terjemahan.

      Delete
  3. Apapun itu ttp two tumbs up buat Dan Brown....
    Emg sapa orang indonesia yg bisa bikin novel segila novel2 dia...?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. i do agree with u....' Dan brown... was trully brilliant...

      Delete
  4. Baru aja selesai baca terjemahan Indonesianya...gilaaa keren banget!!!! aq pikir setelah baca resensi dari sini bakalan kecewa karena tidak sebagus karya sebelumnya kayak lost symbol (udah jauh2 dikirim soalnya) ternyata keraguan itu tidak terjadi...he`s still so brilliant!!!!! buku ini penuh kejutan dan dgn akhir yang nggak terpikirkan...aq ampe dibuat penasaran...dan disela2 itu sempet searching di google mengenai sejarah2, bangunan,museum, lukisan2, patung2, syair2 dll biar lebih jelas pengambarannya..aq bilang ini buku terbaik setelah da vinci code dan angel demon :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa. Setelah baca versi Indonesianya saya akui bahwa dari segi aksi dan ketegangannya memang bagus, nggak kalah dengan Angel & Demon. Tapi dari segi latar belakang sejarahnya? Saya nggak sependapat. Membosankan.

      Tetapi ini memang selera :D

      Delete
  5. saya mau nanya nih ke mbak ratna...
    kalo aku sih dari beberapa novel dan brown emang ngga paling ngga seneng ama novelnya yg lost symbol..kenapa? karena ketahuan siapa penjahatnya itu ngga pas di akhir cerita..
    jadinya ending setelah ketahuan siapa penjahatnya itu yg bikin bosen..
    kalo di novel yg Inferno ini apa endingnya (ngebosenin, menurutku) seperti di novel yg lost symbol??
    kalo yg angel and demons sama da vinci code itu aku suka..cuman yg lost symbol...ngga suka banget ama akhir2nya

    ReplyDelete
  6. Iya saya setuju dengan reviewmu mba, dante dan virus...
    kok ngga nyambung blas, ya?

    story tellingnya sih tetap pinter...ya, formula thrillerlah...

    ReplyDelete
  7. Apapun kalian bilang, Dan Brown tetap penulis thriller terbaik sejagad, banyak ilmu sejarah baru yg aku ketahui dari penulis gemilang ini. Eh ngomong2, ada yg tau nama asli organisasi "Konsorsium" itu ga?

    ReplyDelete
  8. Gk sengaja nyangkut disini ... kalo komen sih emang enak . Lemparin kritik jago .si ratna . Hahahah dasar !!..

    ReplyDelete
  9. Assalamualaikum
    Saya gemar membaca buku terjemahan dalam bahasa Indonesia..adakah mana2 toko buku Indonesia yang boleh membuat kiriman ke Malaysia.jika Ada penerbit mana yang melakukannya..

    ReplyDelete
  10. saya sangat tertarik dengan novel2 bertema seperti kaeanga dan brown, mungkin teman teman ada refernsi buku lain yang ceritanya seperti karangan tersebut.
    tetapi saya masih penasaran dengan INFERNO dan akan tetap membacanya!!
    kalau ada referensi kirim ke tutus.puspoyo@gmail.com

    Thank ya

    ReplyDelete
  11. Hanya dua pengarang favoritku. Dan Brown dan Agatha Christie. Keduanya punya karakter sendiri2 yang justru bertolak belakang. Agatha beralur sangat lambat sebaliknya Novel Dan sangat cepat, bahkan yang membacanya pun terbawa kelelahan yang amat sangat. Pokoknya beda banget deh..tapi keduanya sama sama berkelas dan membuat aku kagum.

    By the way, yah..itulah dua pengarang favoritku. Karya Dan Brown cuman Inferno yang belum aku baca.sedang Agatha, setiap ada waktu senggang aku mencoba membaca novel2 nya satu persatu karena memang sudah banyak banget.

    ReplyDelete
  12. Kalo mengenai hasil sebuah karya, tetsp aja memang tidak bisa dong semuanya memuaskan semua orang. Kritik saran opini apapun adalah hak setiap pembaca asalkan disampaikan dengan baik. Jadi sah2 aja mbak ratna mau berpendapat seperti apa. Aku bahkan pernah tertarik membaca novel si A atau B tapi cuman yg berjudul itu aja. yang lainnya enggak.

    tetapi pandangan secara umum bisa kita simpulkan bahwa dan Brown memang salah satu novelist terhebat saat ini.

    ReplyDelete
  13. Aku juga ngerasa kurang puas dengan inferno ini walaupun aku suka bgt dan brown. Tp mungkin dgn alasan yang sedikit berbeda. Aku sih ga sukanya karena rasanya anti-klimaks, begitu rahasianya kebuka satu-persatu semakin turun ketegangannya. Tp aku salut bgt sm dan brown yang jago bgt menggiring persepsi pembaca di awal2 sampe ngerasa ketipu tp setelah itu udah turun terus ketegangannya karena udah tau ga ada tokoh antagonisnya

    ReplyDelete
  14. Kalo saya agak kurang setuju tentang ketidak hubungan antara infernonya dante dan teori overpopulation dan who :). Sangat berkaitan kok. Dan itu menjadi titik jenius si dan brown dalam mengolah cerita ini.. ga sabar gmana tom hank memainkan peran prof langdon ditanah folerence markasnya fiorentina.

    ReplyDelete
  15. Saya salut banget sm dan brown di inferno ini, dimana dan brown dengan brani nya mengangkat kisah real yg kontroversial tentang overpopulasi. Selama ini saya gak pernah kepikiran masalah ini dpt mengakibatkan masalah yg serius, spt kekurangan air bersih dsb....salut buat dan brown!

    ReplyDelete
  16. Aku jadi penasaran jangan2 dan brown bagian dari mason illuminati dll krn dia tau banyak ttng itu semua,dan semua novel intinya berusaha membela biarawan sion freemason illuminatti atau kelompok rahasia yahudi yg kebanyakan orang dianggap kontroversi

    ReplyDelete