Friday, February 06, 2009

Sebuah Jawaban, Saya Mujahid Bukan Teroris

Apakah perbuatan teroris beragama itu benar atau salah?

Saya tidak berniat untuk mengatakan saya ini muslim yang pro atau kontra. Tetapi pertanyaan inilah yang dicoba dijawab di karya luar biasa Muhammad B. Anggoro ini, Saya Mujahid Bukan Teroris. Sebuah karya agung yang mengajak kita yang kontra dengan aksi ini untuk memahami alasan kuat yang melatarbelakangi mereka dan memhami bagaimana mereka tidak sepenuhnya salah. Dan bagi para pendukung aksi-aksi terorisme ini, mengajak mereka mengetahui dan memahami berbagai kesalahan yang terkandung dalam cara mereka berjuang.

Berkisah tentang Ghofar, seorang mujahid yang pernah merasakan perih dan kengerian berperang di tanah jihad Afganistan. Sepulangnya dari Afganistan, kebencian dan kemarahannya kepada Amerika dan dunia Barat semakin menjadi. Ia dan keempat sahabatnya yang selamat dari Afganistan, ditambah dengan keahlian Ghofar merakit bom, memulai serangkaian pengeboman di negeri ini. Tetapi ketiga temannya tertangkap, sedangkan Ghofar dan seorang sahabatnya, Shobir, menjadi buronan polisi.

Tetapi, Ghofar menyadari ada yang tidak beres. Sejak melakukan pengeboman yang sudah menghilangkan ratusan nyawa itu, hatinya dipenuhi ketakutan-ketakutan tak terjelaskan. Ia, yang tidak pernah merasakan takut secuil pun selain kepada Allah, yang tidak pernah merasa takut setiap kali menantang pasukan Barat di Afganistan, bisa merasakan takut hanya karena dikejar polisi. Ia perlahan menyadari bahwa ia takut karena merasa bersalah. Bersalah karena membunuh ratusan nyawa yang tidak berdosa, bersalah karena sudah membunuh banyak saudara muslim, dan merasa bersalah karena cara jihadnya yang justru merugikan umat Muslim. Ia lalu memutuskan untuk berjuang dengan cara lain. Lewat pendidikan, diplomasi, dan akal. Maka ia memutuskan untuk menyerahkan diri. Tetapi, sahabatnya Shobir menentang dan tetap ingin berjuang sendiri. Maka mereka berpisah.

Enam tahun Ghofar mendekam di penjara dan begitu bebas ia bertekad untuk menjauhi kehidupan lama itu. Kehidupannya berjalan damai dan masyarakat mau menerimanya.Tetapi, beberapa saat kemudian muncul surat-surat tanpa nama, yang mengajaknya untuk kembali "berjuang". Ghofar gusar sekali. Surat-surat itu diyakininya berasal dari kelompok baru sahabat lamanya, Shobir. Ia bertekad untuk tidak akan kembali ke jalan yang diyakininya salah itu. Dengan dukungan anaknya, Asih dan muridnya, Fajar, Ghofar bertekad untuk membantu polisi dan pemerintah menghentikan aksi para teroris itu.

Tetapi, entah kenapa, si penulis surat itu selalu bisa mencium dan mendeteksi perbuatan Ghofar. Sampai akhirnya surat itu menyatakan bahwa Ghofar sudah ingkar dan mereka sudah tidak membutuhkanya lagi. Dimulailah serangkaian pengeboman di negeri ini. Tetapi, alangkah kagetnya Ghofar dan keluarganya ketika akhirnya mengetahui tangan siapakah yang sudah merampas begitu banyak kehidupan di negeri ini ....

Ditulis dengan begitu mengena pada topik permasalahan, tetapi juga perlu dibalut dengan kisah yang luaar biasaaaa. Itulah pendapat yang cocok untuk buku ini. Inti dari novel luar biasa ini memang berkisah tentang apa sebenarnya mujahid dan teroris. Tetapi, kisah yang digunakan untuk menceritakannya juga sangat luar biasa, Kedalaman dan alur kisahnya membuat saya terhenyak kagum.

Bagaimana tidak kagum? Saya memang amatir dalam dunia sastra, tetapi saya sangat jarang membaca karya Indonesia yang cara penceritaannya seperti ini. Pesan yang terkadung sangat peting dan mengena. Tetapi penyampaian pesan itu tidak kemudian mengorbankan kualitas kisah. Sekilas, novel ini begitu saja kisahnya, sampai kemudian ada sebuah kejutan hebat di tengah kisah. Rasanya seperti membaca bagian ending karya Agatha Christie atau Dan Brown saja (^_<). But, the most important, jangan lewatkan buku ini ....



Artikel Terkait :




No comments:

Post a Comment