Mari, kita lihat kisah-kisah serial buku yang tidak beruntung di dunia film ini. Dari daftar aslinya yang saya dapat dari link di atas, saya hanya akan membahas beberapa kisah yang saya sudah baca bukunya dan nonton filmnya - yang sialnya hampir SEMUA di daftar itu saya tahu. Berikut adalah pembahasannya, mulai dari adaptasi yang paling mending hingga yang paling epic failure menurut saya.
4. Chronicles of Narnia
Serial Sumber: Chronicles of Narnia by C.S. Lewis (terdiri dari 7 buku)
Film : Tiga film dari tiga buku pertamanya (hingga saat ini)
Siapa sih penggemar buku (fantasi) yang tidak tahu Chronicles of Narnia. Film pertama dari serial Narnia, The Lion, the Witch, and the Wardrobe dapat dikategorikan sukses besar, baik secara finansial, kualitas, hingga kepuasan fans. Bahkan, tidak sedikit penonton filmnya yang beralih dan penasaran untuk membaca bukunya juga (termasuk saya!). Tidak sedikit penikmat film maupun buku yang yakin Narnia dapat mengikuti kesuksesan Harry Potter dan Lord of the Rings.
Lalu, bagaimana dengan film selanjutnya? Pendapat pribadi saya: Prince Caspian adalah film yang baik, banyak pengembangan dari bukunya, seperti film pertamanya. Pengembangan ini penting sekali untuk film Narnia karena kisah di bukunya sendiri sangat sederhana dan kadang membingungkan sehingga perlu penjelasan lebih lanjut. Hanya saja, jika pengembangan di film pertama terasa sangat pas, pengembangan di Prince Caspian terasa berlebihan dibeberapa bagian. Akibatnya, film ini terasa jauh lebih gelap daripada film pertama. Membuat daya tariknya berkurang hingga SETENGAHNYA menurut saya. Dan kelihatannya, penikmat film dan buku lainnya setuju dengan saya karena penurunan finansialnya cukup tajam. Tragis sekali, padahal saya pribadi berpendapat dari segi buku, buku kedua ini jauh lebih menarik daripada buku pertama.Lalu, bagaimana film ketiga? The Voyage of the Dawn Treader. Bagus-bagus-bagus, dari sisi pengembangan. Bagaimana film ini menambah banyak unsur untuk membuat cerita makin fokus dan genting (tujuh pedang, pulau kegelapan, dll). Visualisasi ujung dunia juga bagus sekali. Pengembangannya terasa sangat pas sebenarnya. Tapi kenapa gaung Narnia justru semakin tak terdengar setelah film ini?
Sebenarnya, saya juga tidak dapat memahami masalah yang satu ini. Konon, buku ketiga ini adalah yang paling populer karena unsur petualangannya. Saya juga menikmati bukunya, dan filmnya juga lumayan. Hanya saja, jujur saya tidak merasakan unsur petualangan dari bukunya dan unsur WAH yang saya rasakan dari film pertamanya. Jangan tanyakan kenapa. Saya tidak dapat memberi penjelasan detail tentang ini karena saya bukan kritikus film.
Sebagai fans, mungkin ada satu jawaban yang bisa saya berikan. Ketika membaca bukunya, saya sangat excited pada The Lion, the Witch, and the Wardrobe, Prince Caspian, The Horse and His Boy, Magician's Nephew. Silver Chair lumayan juga. Dari daftar favorit itu saya menemukan sebuah kesamaan: Pertama, Pevensie bersaudara lebih baik lengkap (kita paham bahwa Narnia dapat dikatakan tidak ada tokoh utama yang sama di keseluruhan seri). Kedua, faktor villain-nya!!!!
Sang penyihir putih, Jadis, adalah best villain in all Narnian books. Dua kali ia menjadi villain utama, saya merasa kedahsyatannya. Satu-satunya villain yang (dapat dikatakan) menandingi Aslan. Pertama, di buku maupun film the Lion, the Witch, and the Wardrobe (ada yang berani protes?). Kedua, di Magician's Nephew, dimana ditujukan bahwa Jadis memang ancaman Narnia bahkan sejak Narnia baru diciptakan (oh, yeah!)
Informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber menyatakan bahwa film Narnia selanjutnya (jika berhasil ada) adalah film dari Magician's Nephew. Jika film ini berhasil ada, dan cukup sukses juga, maka rumusan saya akan cukup terbukti mengingat porsi Jadis dan Aslan cukup besar disini. Mari kita harapkan pengembangan yang baik.
3. The Golden Compass
Serial Sumber: His Dark Materials oleh Philip Phulman
Film : film dari buku pertamanya, The Golden Compass
Sebagai seorang pembaca dan penikmat film, aku jujur sangat menikmati film the Golden Compass dibandingkan bukunya. Visualisasi dari berbagai hal yang tidak kumengerti di bukunya dapat berjalan baik. Penjelasannya berbagai istilah dan konsep juga bagus sekali (seperti penjelasan tentang daemon dan Debu), singkat dan tepat sasaran. Para penyihir, para beruang, wilayah kutub, juga pas sekali. Hanya saja, sayang sekali endingnya belum sampai bagian dimana Lyra menyeberang dunia lewat jembatan (karena pasti jika seperti itu akan mendorong sekuel, padahal filmnya belum tentu sukses).
Jadi, kenapa kita tidak mendengar gaungnya? Atau kemungkinan sekuel (karena jujur aku ingin melihat Will dan Pisau. Yah, Pisau itu dapat dibilang artifak terpenting). Alasan pertama dan paling utama, aku yakin adalah faktor kontroversial buku ini. Yah, sang penulis adalah seorang ateis, jadi hal itu sangat tercermin di bukunya. Ini adalah kisah dimana para makhluk menantang Tuhan (well, ekstremnya begitu sebenarnya). Walau dijabarkan bahwa tidak seluruh Kerajaan Surga itu buruk, bahwa itu adalah kesalahan sang Regent, tetap saja, unsur anti-agamanya sangat kuat sekali (terutama di buku kedua dan ketiga). Aku dapat membayangkan penentangan yang sangat kuat dari berbagai pihak untuk menghentikan film ini, karena walaupun filmnya jelas-jelas lebih halus, pasti orang penasaran ingin membaca bukunya.
Dan ngomong-ngomong, aku tidak bisa menemukan His Dark Materials edisi bahasa Indonesia lagi di Gramedia dan berbagai toko buku!!! Ada yang bisa lapor jika ketemu? Aku sudah punya lengkap tapi tetap penasaran apakah di Indonesia resistensinya juga besar atau tidak.




