Showing posts with label high fantasy. Show all posts
Showing posts with label high fantasy. Show all posts

Friday, March 21, 2014

Ketika harapan dan tragedi terjalin; Daughter of Smoke and Bone

Setelah sekian lama blog ini begitu sepi dan saya tinggalkan, saya mohon maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman pendatang setia yang belum mendapat info baru (padahal menunggu-nunggu). Huh, skripsi itu benar-benar melelahkan, apalagi jika judulnya susah dan datanya banyaaaak (T_T).

Namun, saya masih tetap konsisten dengan blog tercinta ini sebagai seorang pencinta buku, jadi sekarang adalah giliran untuk review buku yang merupakan crown jewel diantara semua buku yang baru kutemukan. Apa judulnya? Para pembaca, kuperkenalkan dengan Daughter of Smoke and Bone, karya Laini Taylor, yang bisa ditemukan di toko buku Gramedia sejak beberapa bulan yang lalu. Sebuah buku bergenre fantasi yang begitu indahnya dan kreatifnya sehingga aku merasa ia pantas bersanding dengan Harry Potter. Hanya saja, dengan tema yang lebih kelam - jauh lebih kelam. 

Buku ini bersetting di Praha. Kenalkan tokoh utama kita, Karou. Sekilas ia seperti seorang anak perempuan biasa, sebiasa mungkin bagi seorang pelajar seni di Praha. Ia seorang pelukis yang berbakat, agak eksentrik dengan rambut biru dan tato di tubuhnya. Ia amat lekat dengan sahabatnya Zuzana, dan sedang punya masalah dengan mantan-pacarnya Kaz. Tapi, memangnya berapa seniman yang eksentrik, dan ada berapa remaja yang punya sahabat dan masalah dengan mantan pacar? Sangat biasa. 

Kecuali bahwa Karou tidak biasa. Ia tidak punya keluarga, atau nama belakang. Bahkan Zuzana dan Kaz tidak tahu apapun tentang latar belakang Karou. Ia bisa berbicara lebih dari 20 bahasa, sering menghilang selama beberapa hari untuk melakukan 'tugas misterius', dan punya kemampuan untuk membuat beberapa permintaan jadi kenyataan. Dan ia menggambar monster di buku gambarnya, monster-monster yang teman-teman Karou kenal dengan baik karena ia sering bercerita tentang mereka dan apa yang sedang mereka lakukan. Bukan hal aneh, berapa orang kreatif di dunia ini? Kecuali bahwa semua monster itu memang ada, semua yang Karou ceritakan itu nyata, dan monster-monster itu adalah satu-satunya keluarga yang Karou miliki. 

Monster-monster itu disebut chimaera. Mereka seperti gabungan antara tubuh manusia dengan berbagai jenis hewan. Issa, Yagi, Twiga, dan Brimstone. Mereka berempat adalah keluarga Karou. Mereka lah yang membesarkan Karou sejak kecil, dengan alasan yang Karou tidak pernah tahu. Karou tumbuh di tempat yang ia sebut toko Brimstone. Di tempat yang berada di dimensi berbeda inilah Karou tumbuh, dan melihat berbagai orang yang datang untuk membeli sihir Brimstone; sihir untuk mengabulkan berbagai permohonan. Hanya satu jenis bayaran yang diterima Brimstone: gigi. Gigi berbagai jenis makhluk yang entah mengapa sangat penting bagi para chimaera. Dan demi gigi-gigi itulah Karou pergi untuk tugas-tugas misteriusnya; mengumpulkan gigi untuk Brimstone. Mulai dari St. Petersburg ke Marrakesh, mulai dari gigi Mammoth sampai gigi manusia. 

Tuesday, July 31, 2012

EON: Lahirnya Sang Punggawa Naga

Sudah lama aku tidak menemukan buku yang membuatku masuk mode: fans berat. Maksudku, buku yang membuat berdebar-debar, badan sakit karena baca non stop, dan terus terpikir sampai tidur. Sudah lama aku tidak menemukannya sejak Harry Potter tamat. Bahkan serial Hunger Games dan Inheritance (baru baca tahun 2012 ini juga 'kan) tidak mampu memberiku perasaan *WHAT???* (halah, lebay!)

Tidak pernah aku mengira dapat menemukan perasaan ini pada buku fantasi dengan latar belakang seting dan mitologi Asia (baca: Cina dan Jepang). Terakhir kali aku baca buku novel bersetting itu adalah Silver Phoenix dan Kisah Klan Otori, mulai dari Accross the Nightingale Floor sampai Harsh Cry of the Heroin. Keduanya tidak dapat memuaskanku, walau alasannya berbeda. Silver Phoenix mengecewakanku dari segala aspek sedangkan akhir Kisah Klan Otori membuatku melempar buku keempatnya itu ke jendela (beneran lho!).

Jadi, buku yang benar-benar membuatku sesak napas saking terperangahnya adalah kisah dwilogi-nya Allison Goodman, kisah para Punggawa Naga di Eon dan Eona. Berhubung aku orang yang sangat menghargai keteraturan, jadi mari kita masuki dunia para naga lewat Eon: Lahirnya Sang Punggawa Naga.

Kisah ini bersetting di Negeri Naga Kayangan, sebuah negeri yang gampangnya bayangkan saja Cina dan Jepang di era feudalismenya (walaupun menurutku kisah Eon lebih cenderung ke Cina). Negeri ini dilindungi oleh kedua belas naga elemen, yang menjaga keteraturan alam di wilayah mata angin mereka. Kedua belas naga ini dinamakan berdasar dua belas shio Cina, jadi mulai dari Naga Harimau, Naga Kerbau, Naga Kuda, sampai Naga Naga yang disebut Naga Kembar. Rakyat Negeri Naga Kayangan bergantung kepada para Punggawa Naga, manusia yang dapat bersatu dan mengakses dunia energi para naga, untuk menjaga mereka dari bencana alam karena tanah dan air. Sayangnya, sejak 500 tahun yang lalu, Naga Kembar menghilang dan mengakibatkan kekosongan di wilayah timur.

Setiap tahun, seekor naga akan Bangkit sesuai siklusnya. Pada tahun itu juga akan diadakan pemilihan untuk murid Punggawa Naga, penerus kekuatan untuk naga yang Bangkit pada tahun tersebut. Anak yang terpilih akan menjadi murid selama 11 tahun untuk akhirnya menjadi Punggawa Naga penuh sekaligus memimpin kesebelas Punggawa Naga lainnya, saat naganya Bangkit di tahun ke-12. Punggawa Naga sebelumnya akan pensiun dan siklus akan terus berlanjut.

Eon adalah murid Bangsawan Brannon, mantan Punggawa Naga Harimau. Di bawah didikan master-nya, ia dipersiapkan untuk menghadapi upacara pemilihan untuk Punggawa Naga Tikus. Gurunya amat berambisi untuk mensukseskan Eon karena berharap memperoleh kembali kejayaan lamanya. Eon adalah anak yang istimewa. Ia mempunyai kemampuan untuk melihat dunia energi dan melihat kesebelas naga sekaligus (minus Naga Kembar yang hilang), sebuah kemampuan yang bahkan tidak dimiliki Punggawa Naga. Sayangnya, cacat di pinggul Eon membuatnya tidak dipandang oleh para bangsawan ataupun kandidat lainnya.

Tapi, ada rahasia lain yang dipendam Eon dan gurunya. Sebenarnya Eon adalah seorang perempuan. Ambisi gurunya membuat mereka berdua menutup rahasia ini rapat-rapat dengan harapan Eon dapat terpilih menjadi Punggawa Naga. Seperti yang sudah dipercaya selama 500 tahun, perempuan tidak memiliki tempat di dunia sihir naga. Hukuman untuk penipuan seperti ini adalah kematian. Tetapi, Eon dan gurunya berani mengambil resiko karena mereka melihat peluang, dan ini adalah taruhan terakhir mereka. Orang-orang lain memandang remeh Eon karena ia seorang cacat, tetapi seperti kata Lord Brannon "Kau tidak tahu bagaimana seekor naga memilih".

Friday, July 20, 2012

Akhir Sebuah Saga, Inheritance

Akhirnya sampai juga kita di buku akhir siklus warisan, Inheritance. Sudah lama banget kita para penggemar Paolini di Indonesia menanti dengan (tidak) sabar akan buku keempat ini. Akhirnya, kita akan mengetahui akhir  perjalanan Eragon dan Saphira. Bagaimana nasib Murtagh dan Thorn? Bagaimana dengan Glaedr? Bagaimana hubungan Eragon dan Arya? Apakah Varden dan sekutu-sekutunya akan berhasil menjatuhkan Kekaisaran? dan yang paling penting tentu saja, apakah akhirnya Eragon dan Saphira akhirnya mampu mengakhiri kekejaman Galbatorix?.

(Ya Ampun Kebanyakan pertanyaan).

Eragon dan Saphira telah melangkah amat jauh dalam usaha menjatuhkan Galbatorix. Bersama mereka, Varden, Surda, Kurcai, Urgal, Elf, dan Werecat melangkah bersama. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menjatuhkan Galbatorix. Mereka sudah melangkah terlalu jauh. Gagal di sini, artinya kekalahan mutlak dan tidak akan pernah ada kesempatan lagi untuk menjatuhkan Galbatorix..

Jadi, apakah kalian siap melangkah bersama Eragon dan Saphira untuk mengetahui akhir kisah ini???.

Inheritance dimulai dengan detail perang yang dilewati Varden dalam usaha mereka untuk menyerang Uru'Baen. Pertarungan berlangsung sulit di semua kota yang berusaha untuk dikuasai Varden. Dalam pertarungan di Belatona, nyawa Saphira bahkan terancam oleh Dauthdaert, tombak pembunuh naga yang dibuat bangsa elf dahulu kala, yang entah bagaimana berhasil jatuh ke tangan Kekaisaran..

Semua perang ini menunjukkan pada Eragon betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk menjatuhkan Galbatorix. Orang-orang yang tak tahu apa-apa menjadi korban. Roran menghadapi hal yang sama. Apakah benar bahwa Kekaisaran dan Galbatorix membawa kesengsaraan pada Alagaesia?.

Pengepungan Dras Leona nyaris membawa petaka bagi Eragon dan Arya. Penyusupan lewat lorong rahasia bawah tanah yang ternyata menuju katedral nyaris membuat Eragon dan Arya menjadi santapan Ra'zac jika bukan karena bantuan Angela. Jatuhnya Dras Leona membuat hanya satu target yang tersisa bagi Varden dan sekutunya: Uru 'Baen, dimana mereka akan bergabung bersama pasukan elf untuk melancarkan perang penentuan..

Tetapi, takdir seakan tidak berada di pihak mereka. Diculiknya Nasuada oleh Murtagh membuat Varden semakin menciut. Eragon dan Saphira berhasil mendorong Varden untuk terus maju, walau merea sadar bahwa tanggung jawab paling berat berada pada pundak mereka karena merekalah yang harus berhadapan dengan Galbatorix. Walaupun perang dimenangkan Varden dan sekutunya, semuanya akan sia-sia saja jika Eragon dan Saphira gagal mengalahkan Galbatorix. Padahal, mereka sadar bahwa mereka bahkan belum bisa mengalahkan Thorn dan Murtagh, bagaimana mungkin mereka mampu mengalahkan sang Raja yang telah membawa kehancuran bagi Penunggang dan mencengkram Alagaesia selama satu abad?.

Sebuah harapan samar berasal dari kata-kata yang dahulu pernah diucapkan Solembum: Ketika semua terasa kacau dan kekuatanmu tidak memadai, pergilah ke Karang Kuthian dan sebut namamu untuk membuka Ruang Jiwa-jiwa. Dimana Karang Kuthian dan Ruang Jiwa-jiwa berada? Harapan apa yang disimpan di tempat itu?

Wednesday, September 29, 2010

The Bartimaeus Trilogy: The Amulet of Samarkand.

Bagi anda yang merupakan pengikut setia blog saya ini sejak dahulu, pasti ingat bahwa saya pernah menulis tentang The Bartimaeus Trilogy karya Jonathan straud. Yup, memang saya sudah pernah menulisnya, tetapi waktu itu saya merangkum ketiga buku ini menjadi satu artikel. Setelah dipikir-pikir, buku-buku itu terlalu bagus untuk ditulis sepintas. Jadi, ayo kita telusuri lebih dalam buku pertama trilogi ini, The Amulet of Samarkand.

Setting semua buku Bartimaeus Trilogi ini adalah sebuah dunia dimana negara yang menguasai sihir adalah negara yang menguasai dunia. Peran "penguasa" ini berganti setiap beberapa ratus tahun dari satu negara ke negara lain. Dan sekarang, sejak kejatuhan Praha, Kerajaan Inggris memegang peran sebagai 'penguasa' dengan peradaban sihir yang tertinggi.

Saturday, November 14, 2009

The Black Magician Trilogi: The Novice


Setelah sebelum ini aku membahas mengenai buku pertama dari The Black Magician Trilogi: The Magician's Guild karya Trudi Cannavan, sekarang aku akan menulis tentang buku keduanya, yaitu The Novice. Buku ini tentunya tidak kalah bagus dengan buku pertamanya (^_^). 

The Novice berkisah tentang kehidupan Sonea setelah ia bergabung dengan Persekutuan Penyihir. Kisah dimulai dengan upacara pengukuhan para calon penyihir muda, termasuk Sonea dan anak-anak lain dari berbagai Wisma bangsawan. Di upacara inilah untuk pertama kalinya bertemu seorang anak bernama Regin. Sejak awal, Regin sudah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Sonea yang berasal dari kelas bawah. Hanya dalam waktu singkat, Regin berhasil membuat Sonea tidak disukai oleh teman-teman sekelas dan para gurunya.

Tetapi, masalah yang dihadapi Sonea ternyata tidak "semudah" itu. Sonea dan pembimbingnya Rothen, menghadapi kekhawatiran jika ada orang yang tahu bahwa mereka menyimpan rahasia mengerikan Ketua Tertinggi Akkarin, rahasia bahwa pemimpin Persekutuan itu menggunakan sihir hitam yang terlarang. Tekanan rahasia besar yang dipegangnya dan juga gangguan Regin yang semakin parah membuat Sonea merasa tidak ada kebahagiaan dalam hidupnya di Persekutuan.

Saturday, September 26, 2009

The Magicians' Guild, Sebuah Kisah Fantasi Mengesankan

Sudah lama nggak menulis di blog ini. NAH, saat mudik saya menemukan sebuah buku bagus saat menjelajah Gramedia di kota kelahiran (^_^). Lebih bagus, ini adalah novel fantasi favoritku. Bagus banget, sebab sejak "menemukan" Eragon, Bartimaeus Trilogy, dan Magyk aku belum menemukan buku baru lagi.

Buku yang akan kita bahas kali ini adalah buku pertama dari The Black Magician Trilogy karya Trudi Canavan, The Magicians' Guild, atau dalam bahasa Indonesia Persekutuan Penyihir. Buku ini berkisah tentang Sonea, gadis muda yang tinggal di Pemukiman kumuh di Kota Imardin, Kyralia. Pada musim dingin setiap tahunnya, Raja Kyralia memerintahkan diadakannya Pembersihan Kota, dimana semua orang yang dianggap "membahayakan" kota seperti para pengemis, gelandangan, dan pencuri diusir keluar kota. Penduduk Pemukiman Kumuh selalu melawan tetapi tentunya mereka tidak bisa melakukan apa-apa sebab perintah Raja ini dilaksanakan tidak hanya oleh tentara biasa, tetapi juga oleh Persekutuan Penyihir.

Para penduduk tetap melawan untuk menunjukkan rasa tidak suka mereka, walaupun hanya sekedar melempar batu, yang tidak berguna sama sekali menghadapi perisai para penyihir. Sonea, yang juga membenci Persekutuan karena semua yang sudah mereka lakukan juga ikut serta. Mengerahkan semua kemarahan dan kebenciannya kepada sebuah batu lemparannya, batu itu berhasil merusak perisai dan melukai seorang penyihir dibaliknya. Tanpa Sonea sadari, ternyata ia memiliki kekuatan sihir yang besar, begitu besar sehingga dapat muncul dengan sendirinya, dan kemarahannya saat itu telah memicunya menggunakan kekuatan itu.

Thursday, April 23, 2009

Eragon, Eldest, Brisingr. Semakin bagus kah???

Ho..ho.. judulnya buat penasaran, ya. Padahal isinya sih agak subjektif dari sudut pandangku. Selain itu, jelas banget kalau aku ingin ngebahas buku ketiga dari the inheritance cycle, tak lain dan tak bukan, Brisingr.

Banyak yang berpendapat bahwa di antara ketiga buku itu, Brisingr adalah yang terbaik (dan tertebal juga!). Aku SANGAT setuju. Salah satu buku terbaik yang kubaca (selain Harry Potter 7, tentunya). Bagian awalnya aja udah langsung cool, menyerang Ra'zac di Helgrind. Pernikahan Roran dan Katrina. Lalu kejadian-kejadian lain yang oke banget, begitu banyak sampai gak bisa kutulis.

Tapi, ada beberapa hal yang menarik perhatianku sebagai fans di cerita ini:
  1. Hukuman yang diberikan Eragon kepada Sloan. Aku setuju 100 % dengan Nasuada dan Orrin yang mendukung Eragon. Kita, dan banyak orang lainnya, tidak memiliki hak untuk menentukan hidup matinya seseorang. Seperti yang dikatakan Oromis pada Eragon, "Jagalah jangan sampai tangan ini menjadi tangan seseorang yang menikmati pertempuran"
  2. Aku memperhatikan saat Murtagh menangguhkan pertempurannya dengan Eragon untuk mendengar cara mengakhiri perbudakannya dari Galbatorix. Walaupun di Eldest aku merasa Murtagh menikmati keadaannya, ternyata tidak. Mungkin ada rasa senang dengan kekuatannya sekarang (seperti pemikiran Eragon, dunia selama ini tidak berpihak pada Murtagh dan sekarang Murtagh ingin membalaskan rasa sakitnya pada dunia), tetapi Murtagh sangat ingin bebas. Rasanya miris banget kalau ingat perkataan Murtagh pada Oromis, sesaat sebelum Galbatorix menguasainya, "Terkutuk kau karena tidak muncul sebelum ini! Seharusnya kau bisa menolong kami".
  3. Bulu kudukku meremang di saat Galbatorix berbicara. Penjabaran Paolini tentang suara Galbatorix memang tepat. Dari perkataannya saja bisa diduga, betapa licik, lihai, dan berbahayanya dia. Ditambah lagi, aura-nya berbeda dari aura tokoh antagonis di berbagai buku yang pernah kubaca. He is different!! Paolini tidak butuh menjabarkan betapa licik dan berbahayanya dia secara langsung, satu-dua kalimat dialog sudah cukup bagi kita untuk memahami dia bukan sekedar musuh biasa. Kalimat semanis madu yang berisi racun yang mematikan. Bahkan aku aja nyaris menganggap kata-katanya ada benarnya! Ck..ck..,tambah nggak sabar untuk baca final battle-nya di buku keempat deh!
  4. Kemarahan Oromis saat berbicara dengan Galbatorix menyita perhatianku. Kita mengenalnya sebagai orang yang selalu bisa mengendalikan diri di situasi apapun, tetapi pada saat itu saja kita bisa merasakan emosinya, dan emosi Glaedr juga. Dia bukan orang yang akan menghujat seseorang, tetapi khusus dan hanya untuk Galbatorix, kita bisa merasakan kebencian yang dalam dari kata-kata Oromis. Well, itu wajar banget, kan! mengingat semua yang sudah dilakukan Galbatorix
  5. Terakhir, saat-saat Oromis mati dan Glaedr merasakan kehilangan yang sangat mengerikan. Seperti itukah rasanya jika naga atau penunggangnya mati? Walau sudah dijabarkan bahwa kehilangan salah satu akan membuat yang lain gila, aku selalu berpendapat bahwa tidak sebegitu mengerikan, mengingat Brom masih bertahan. Saat itulah aku benar-benar paham. Jika Glaedr yang sudah mempersiapkan diri sekian lama saja masih begitu shock, bagaimana dengan para penunggang dan naga lain yang masih muda dan masih membutuhkan satu sama lain? seperti kata Eragon, tidak heran Galbatorix jadi gila karena kematian naganya.

Itu sedikit yang menarik dari segi cerita. Sementara dari segi teknis ..., aku suka banget cara Paolini mengisahkan dari beberapa sudut pandang. Dari Eragon, Saphira, Roran, dan terakhir Glaedr. Dari sudut pandang Saphira, aku senyum-senyum kalau membaca dan merasakan kebanggaan dan harga diri Saphira saat membacanya. Juga rasa sayangnya kepada Eragon. Selama ini kita hanya tahu rasa sayang Saphira dari sudut pandang Eragon, ternyata, rasa sayangnya jauh lebih besar daripada yang dia tampilkan ya?

Baik penceritaan dari sudut pandang Saphira dan Glaedr membuat kita dapat melihat bagaimana naga melihat dunia ini dan berpikir (dari sudut pandang naga, tentunya). ternyata, agak berbeda dari yang selama ini kulihat dari sudut pandang Eragon. Naga punya kebanggaan dan harga diri sendiri, keunikan sendiri, cara memandang suatu situasi, dll. pokoknya semakin terasa manusiawi deh! kurasa Paolini yang pertama menggambarkan sosok naga dengan cara seperti ini.

Walau buanyaaaak banget yang OK, masih terasa juga yang mengganjal dan kurang nyaman. Seperti panjangnya kisah pertempuran Roran dikisahkan. Menarik sih (dan penting juga!), tapi agak kepanjangan. terutama waktu bagian misi kedua Roran. Padahal lagi penasaran gimana kelanjutan perjalanan Eragon. Tapi, yah ini pendapat aku pribadi sih!! Well, senang banget kalo ada yang nambahin, dan jangan marah ya kalo belum baca dan malah kena spoiler! ^_^ (Thanks!)

Hello! Info untuk kalian bahwa kabar resmi tentang judul, kaver, tanggal terbit dan ringkasan di belakang kaver buku ke-4 akhirnya sudah di-publish secara resmi. Cek di sini.

Sunday, March 29, 2009

Enthirea, Pertempuran Dua Dunia

YA-HA !!! Senang sekali akhirnya bisa menulis tentang buku fantasi lagi setelah saya kira saya sudah kehilangan stok. Tapi kali ini spesial, sebab novel fantasi kali ini adalah novel Indonesia, berjudul Enthirea: Pertempuran Dua Dunia yang ditulis oleh mas Aulya Elyasa, penulis muda berbakat tanah air.

Buku ini berkisah tentang Enthirea, sebuah dunia dimana sihir berkuasa. Dahulu kala, terjadi peperangan besar di Enthirea ketika Orgath, salah satu putra Vauri, Raja para Dewa, mencoba menjatuhkan ayahnya dengan menghancurkan semua ciptaan dewa di Enthirea. Untuk melawan Orgath, Vauri memberikan medali yang menyimpan kekuatan dewa kepada orang yang terpilih sebagai pelindung Enthirea. Orgath berhasil dijatuhkan dan dipenjarakan. Kedamaian pun datang ke Enthirea, tetapi para pelindung dan medalinya menghilang.

Seribu tahun setelahnya, Elyaz, pemuda penebang kayu miskin yang tinggal di kota Faerun di tepi hutan Ereantera datang ke sebuah kota Elf di dalam hutan, Eslunia. Di sana ia bertemu elf pria bernama Lefial (yang hampir membunuhnya) dan elf wanita bernama Arvea, yang merupakan putri dari Isfar, pemimpin elf Eslunia. Di sana ia mengetahui kenyataan tentang perang besar masa lampau dan fakta mengejutkan bahwa medali yang diwarisinya dari ayahnya adalah salah satu medali para pelindung, medali Gretiani. Elyaz pun mengetahui takdirnya sebagai pelindung baru Enthirea, ketika sekarang Orgath kembali.

Sebagai pelindung, Elyaz dilatih sihir dan ilmu pedang oleh elf yang hampir membunuhnya, Lefial yang ternyata jendral Eslunia. Awalnya hubungan mereka tidak baik, tetapi seiring waktu mereka menjadi sahabat erat. Elyaz juga menaruh hati Arvea, yang selalu bersikap baik padanya. Tetapi, Arvea mencintai Lefial dan sebaliknya sehingga Elyaz hanya berharap. Sampai tiba hari dimana Isfar meminta Elyaz, Arvea, dan Lefial membantu kota Faerun yang menjadi target pertama pasukan kegelapan Orgath. Sayangnya Faerun jatuh, dan demi menyelamatkan Arvea dan Elyaz, Lefial mengorbankan nyawanya.

Bersama semua bangsadi Enthirea, Elyaz bersiap menghadapi pasukan kegelapan. Takdir membawanya bertemu dengan 3 pelindung lainnya, elf hitam Zatra, penyihir druid Asynia, dan pemuda bernama Alator. Kekuatan yang membuat para pejuang berniat menghadapi pasukan kegelapan secepat mungkin. Elyaz tidak yakin, sebab seharusnya ada delapan pelindung. Akhirnya takdirlah yang menentukan bagaimana akhir perjuangan bangsa-bangsa Enthirea ini.

Penasaran??? Lanjutan membaca bukunya dong!! Saksikan bagaimana perang berakhir dengan ... (spoiler!!) tragis. Tragis bagaimana?? Hi..hi.. keren lhoe endingnya, membuat kita harus melanjutkan membaca di buku kedua Enthirea II : Delapan Pelindung.

Hmm, walaupun ini novel Indonesia jangan dipandang enteng! memang temanya masih tema barat, tetapi alur kisah, isi kisah, dan karakternya TOP deh! HANYA, kelemahan fatal adalah penceritaanya cepat banget, terutama di bagian awal dan akhir. Maksudnya, irit banget cara mejabarkan setting dan kejadian. Jadi pendalamannya kurang, (terutama ending) Terus masalah logika, bahkan amatiran kayak aku juga ngerasa banyak hal ganjil. Selain itu dialognya kok kurang menggambarkan karakternya ya.

Tetapi peceritaan di bagian tengah cerita cukup bagus. Ceritanya juga menarik lho!! Selain itu, mas Elyas kreatif deh cara menulis prolog dan epilognya (aku suka baget prolognya! buat penasaran) Seandainya cerita ini diceritakan dengan pendalaman, teknik, dan kedetilan Lord of the Rings (lah, jadi dibandingin!) pasti bisa ngalahin Harry Potter deh!! So, baca lho! wajib!