Setelah sekian lama akhirnya saya berhasil juga mendapatkan novel Vandaria terbaru, NEDERA, karya mbak Alexia Chen. Jujur saja, saya mungkin merasa lebih senang lagi karena saya mendapat novel ini gratisan cuma karena iseng ikut nge-tweet waktu sedang mengerjakan proposal skripsi di perpustakaan (^_^). Yah, rezeki memang tidak hilang kemana-mana. Jadi, saya merasa bertanggung jawab untuk mereviewnya di blogku ini.
(Jujur saja, mbak Melody. Saya sempat khawatir nggak jadi dapat novel ini karena sudah lama ditungguin kok belum sampai juga di pondokan KKN saya)
Nedera adalah salah satu novel yang merupakan bagian dari Vandaria Saga, franchise fantasi karya anak bangsa terbaik dan terbesar saat ini. Semua orang dapat berkontribusi ke dunia Vandaria, baik apakah Anda menyukai novelnya, card game-nya (Vandaria Arkana!), atau sektor lainnya.
Nedera bersetting di Provinsi Valta, Kerajaan Blackmoon. Yup, jika anda adalah seorang Vandarian mungkin Anda akan berpendapat, "Oke, Blackmoon lagi. Kurang-lebih jelaslah apa seting cerita utamanya." Untuk Anda yang belum mengetahuinya, yakinlah bahwa kisah Vandaria yang bersetting di Blackmoon (baca: menuju masa Invasi Kegelapan) menjanjikan kisah yang penuh aksi, misteri, cerita yang keren, (mungkin) horor, dan DEIMOS!!
Buku ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik separuh frameless, Lyse dan Leofric. Lyse adalah seorang gadis yang menyenangkan. Awalnya, ia, kakaknya, dan kedua orantuanya tinggal dengan damai di desa Haven, provinsi Valta. Akan tetapi, setahun yang lalu kedua orangtuanya pergi secara mendadak dan belum kembali hingga saat ini. Sejak kepergian kedua orangtuanya, sifat kakak Lyse, Leofric, berubah. Sejak kepergian orangtua mereka Leofric menjadi lebih pendiam, dingin, dan keras. Leofric juga sangat protektif terhadap Lyse. Lyse merasa terasing dan kesepian. Mereka jarang memiliki waktu untuk bicara berdua. Leofric selalu menghindari pembicaraan tentang orang tua mereka.
Namun, permasalahan yang lebih mengerikan telah menanti. Sudah beberapa tahun terakhir ini Lyse dan Leofric merasakan semacam aura gelap yang menggantung di udara. Ini adalah hal yang aneh karena tidak ada manusia dan frameless biasa yang mampu merasakan aura gelap itu. Ibu mereka berpendapat bahwa itu adalah hal yang wajar sebagai separuh frameless yang mewarisi darah marga Tordynn, tetapi ia tidak menjelaskan apa yang menjadi penyebab aura itu. Rasa penasaran Lyse semakin menjadi karena aura itu menjadi semakin kuat sejak kepergian orang tua mereka dan karena Leofric menolak untuk membicarakannya.
Akhirnya, pada suatu hari Lyse bertemu dengan seorang pemuda bernama Skys. Pemuda itu menarik perhatian Lyse karena banyak alasan. Akan tetapi, betapa kagetnya Lyse saat Skys meminta bantuannya untuk menyelamatkan adik dan desanya, Nedera, dari cengkeraman makhluk yang selama ini hanya dianggap sebagai legenda, Deimos. Deimos adalah makhluk kegelapan yang merupakan perwujudan kengerian dan berbagai aura negatif di Vandaria. Deimos dianggap sebagai lawan dari Vanadis, para pencipta dan pengatur. Deimos adalah penghancur dan perwujudan kekacauan. Konon, jauh di masa awal penciptaan, terjadi perang besar dimana Vanadis berhasil mengurung deimos di alam neraka, Reigner.
Sinopsis, kritik, review, dan kabar terhangat SEMUA buku yang sudah kubaca. Mana bukumu? Ayo bergabung!
Showing posts with label Fikfan Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Fikfan Indonesia. Show all posts
Sunday, July 14, 2013
Tuesday, January 15, 2013
Vandaria Saga: Redfang
Nah, berhubung dalam beberapa bulan terakhir ini saya berkenalan dengan dunia Vandaria, saya kena panah "cupid" dunia fikfan Indonesia. Jadi, posting ini sekaligus 'meresmikan' label baru di blog ini: Fikfan Indonesia.
Bagi kalian yang belum berkenalan dengan dunia Vandaria, penjelasan sederhana tentang Vandaria adalah ini merupakan proyek anak bangsa dimana penggiat kreatif Indonesia dari berbagai kalangan (novelis, komikus, ilustrator, programer, dll) bersama menciptakan karya-karya dengan latar dunia yang sama: Dunia Vandaria. Bersama menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Jadi, Vandaria terdiri dari berbagai lini produk; novel fantasi, trading card games, komik, dan (semoga) film sampai game RPG!!!!! Semuanya dengan satu latar sama, yakni Vandaria, dengan dasar hikayat yang sama, tetapi dapat berbeda tokoh, tempat, atau waktu. Kebebasan tetap pada penulis selama sesuai dengan pakem dasar (Deskripsi ini benar tidak ya, para sesepuh?).
Nah, dari sekian banyak novel Vandaria, mana dulu yang akan saya review. Berhubung bulan Januari ini sedang demam novel terbaru, jadi isaya rasa novel itu dahulu yang saya review. Jadi mari kita bahas dulu novel Vandaria bulan Januari ini: Redfang, by bos abang Fachrul R.U.N. Bagi pihak yang sudah mengenal nama ini, pasti paham bahwa tulisan penulis yang satu ini menjamin sebuah kisah yang dahsyat, tapi sadis bin kejam dan persiapkan diri dengan kematian tokoh penting. Ruler of nightmare yang satu ini memang tidak punya rasa empati untuk karakter ciptaannya sendirii (^_^).
Jadi, Redfang adalah salah satu novel Vandaria yang berseting waktu pada era Kristal Merah (era ini sekitar 1 IV-250 IV. Semoga saya tidak salah ingat). Era ini adalah era kritis yang merupakan masa transisi antara era Vandaria yang sebelumnya didominasi kaum frameless dengan era dimana manusia dan frameless hidup setara, bersama dengan damai. Untuk yang belum tahu, frameless adalah ras khusus selain manusia yang hidup di Vandaria dan memiliki berbagai keistimewaan seperti usia panjang, penampilan fisik, dan kemampuan sihir. Sederhananya, dapat bayangkan saja karakter elf khusus dunia Vandaria.
Kisah kita ini mengambil seting tempat di salah satu kerajaan manusia, yakni Kerajaan Blackmoon. Tokoh utama kita adalah Cassius Redfang, pemimpin keluarga Redfang, salah satu keluarga bangsawan yang dihormati di Kerajaan Blackmoon. Posisinya sebagai penguasa Redfang ternyata tidak didapatnya dengan bersih. Delapan tahun sebelum kisah ini dimulai, Cassius membunuh adiknya, Velius, demi mendapatkan posisi warisan ayahnya ini. Pembunuhan yang dirancang secara hati-hati dan penuh rahasia ini berhasil membawanya menjadi penguasa Canivius. Semuanya berjalan lancar, hingga istrinya mendapat mimpi ganjil yang menyatakan bahwa adiknya, Velius, ternyata telah kembali.
Awalnya, Cassius tidak mempercayai istrinya. Istrinya, Avenia Mordino, adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Akan tetapi, dahulu ia merupakan tunangan Velius dan hubungan mereka amat erat. Hilangnya Velius membuat Avenia depresi hingga bahkan nyaris terjerumus ke kegilaan. Cassius tetap mencintai dan melamarnya, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa istrinya belum dapat melupakan Velius. Itulah mengapa awalnya ia tidak menganggap serius celotehan istrinya. Sampai saat istrinya menyebut-nyebut tentang hutan dimana ia membunuh adiknya itu.
Entah ini adalah keajaiban, berkat Vanadis, atau hanya perbuatan seorang penipu, di hutan itu Cassius benar-benar bertemu dengan adiknya, Velius, yang seharusnya sudah ia bunuh delapan tahun yang lalu. Velius menunjukkan bahwa ia mengingat semua yang telah dilakukan oleh Cassius, dan bertekad untuk membuat Cassius membayar semua itu.
Secara perlahan dan menyakitkan, rasa khawatir menggerogoti batin Cassius. Karena semua yang ia miliki dan perjuangkan kini berada di ujung tanduk. Semua usahanya untuk mempertahankannya gagal dengan kematian para pendukung dan orang kepercayaannya. Ketika orang yang seharusnya mendukungnya bahkan menelikungnya dari berbagai sisi. Apakah ia memang berhak menerima ini semua? Ataukah ini memang hukuman dari Vanadis? Atau adakah sesuatu yang lain?
Setelah berhasil mengentak para Vandarian dengan survival horror-nya yang super dahsyat di Hailstorm, bang Fachrul sekarang mencekam para Vandarian dengan psychologycal horror-nya di Redfang. Saya memang bukan ahli teknik kepenulisan, tetapi saya merasa abang Fachrul memang selalu selangkah lebih maju secara teknis daripada penulis Vandaria lain. Bukannya mengenyampingkan penulis Vandaria lain, tetapi bang Fachrul menampilkan sesuatu yang baru di Redfang: tokoh utama yang lebih ke arah anti-hero.
Bagi kalian yang belum berkenalan dengan dunia Vandaria, penjelasan sederhana tentang Vandaria adalah ini merupakan proyek anak bangsa dimana penggiat kreatif Indonesia dari berbagai kalangan (novelis, komikus, ilustrator, programer, dll) bersama menciptakan karya-karya dengan latar dunia yang sama: Dunia Vandaria. Bersama menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Jadi, Vandaria terdiri dari berbagai lini produk; novel fantasi, trading card games, komik, dan (semoga) film sampai game RPG!!!!! Semuanya dengan satu latar sama, yakni Vandaria, dengan dasar hikayat yang sama, tetapi dapat berbeda tokoh, tempat, atau waktu. Kebebasan tetap pada penulis selama sesuai dengan pakem dasar (Deskripsi ini benar tidak ya, para sesepuh?).
Nah, dari sekian banyak novel Vandaria, mana dulu yang akan saya review. Berhubung bulan Januari ini sedang demam novel terbaru, jadi isaya rasa novel itu dahulu yang saya review. Jadi mari kita bahas dulu novel Vandaria bulan Januari ini: Redfang, by bos abang Fachrul R.U.N. Bagi pihak yang sudah mengenal nama ini, pasti paham bahwa tulisan penulis yang satu ini menjamin sebuah kisah yang dahsyat, tapi sadis bin kejam dan persiapkan diri dengan kematian tokoh penting. Ruler of nightmare yang satu ini memang tidak punya rasa empati untuk karakter ciptaannya sendirii (^_^).
Jadi, Redfang adalah salah satu novel Vandaria yang berseting waktu pada era Kristal Merah (era ini sekitar 1 IV-250 IV. Semoga saya tidak salah ingat). Era ini adalah era kritis yang merupakan masa transisi antara era Vandaria yang sebelumnya didominasi kaum frameless dengan era dimana manusia dan frameless hidup setara, bersama dengan damai. Untuk yang belum tahu, frameless adalah ras khusus selain manusia yang hidup di Vandaria dan memiliki berbagai keistimewaan seperti usia panjang, penampilan fisik, dan kemampuan sihir. Sederhananya, dapat bayangkan saja karakter elf khusus dunia Vandaria.
Kisah kita ini mengambil seting tempat di salah satu kerajaan manusia, yakni Kerajaan Blackmoon. Tokoh utama kita adalah Cassius Redfang, pemimpin keluarga Redfang, salah satu keluarga bangsawan yang dihormati di Kerajaan Blackmoon. Posisinya sebagai penguasa Redfang ternyata tidak didapatnya dengan bersih. Delapan tahun sebelum kisah ini dimulai, Cassius membunuh adiknya, Velius, demi mendapatkan posisi warisan ayahnya ini. Pembunuhan yang dirancang secara hati-hati dan penuh rahasia ini berhasil membawanya menjadi penguasa Canivius. Semuanya berjalan lancar, hingga istrinya mendapat mimpi ganjil yang menyatakan bahwa adiknya, Velius, ternyata telah kembali.
Awalnya, Cassius tidak mempercayai istrinya. Istrinya, Avenia Mordino, adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Akan tetapi, dahulu ia merupakan tunangan Velius dan hubungan mereka amat erat. Hilangnya Velius membuat Avenia depresi hingga bahkan nyaris terjerumus ke kegilaan. Cassius tetap mencintai dan melamarnya, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa istrinya belum dapat melupakan Velius. Itulah mengapa awalnya ia tidak menganggap serius celotehan istrinya. Sampai saat istrinya menyebut-nyebut tentang hutan dimana ia membunuh adiknya itu.
Entah ini adalah keajaiban, berkat Vanadis, atau hanya perbuatan seorang penipu, di hutan itu Cassius benar-benar bertemu dengan adiknya, Velius, yang seharusnya sudah ia bunuh delapan tahun yang lalu. Velius menunjukkan bahwa ia mengingat semua yang telah dilakukan oleh Cassius, dan bertekad untuk membuat Cassius membayar semua itu.
Secara perlahan dan menyakitkan, rasa khawatir menggerogoti batin Cassius. Karena semua yang ia miliki dan perjuangkan kini berada di ujung tanduk. Semua usahanya untuk mempertahankannya gagal dengan kematian para pendukung dan orang kepercayaannya. Ketika orang yang seharusnya mendukungnya bahkan menelikungnya dari berbagai sisi. Apakah ia memang berhak menerima ini semua? Ataukah ini memang hukuman dari Vanadis? Atau adakah sesuatu yang lain?
Setelah berhasil mengentak para Vandarian dengan survival horror-nya yang super dahsyat di Hailstorm, bang Fachrul sekarang mencekam para Vandarian dengan psychologycal horror-nya di Redfang. Saya memang bukan ahli teknik kepenulisan, tetapi saya merasa abang Fachrul memang selalu selangkah lebih maju secara teknis daripada penulis Vandaria lain. Bukannya mengenyampingkan penulis Vandaria lain, tetapi bang Fachrul menampilkan sesuatu yang baru di Redfang: tokoh utama yang lebih ke arah anti-hero.
Sunday, March 29, 2009
Enthirea, Pertempuran Dua Dunia
YA-HA !!! Senang sekali akhirnya bisa menulis tentang buku fantasi lagi setelah saya kira saya sudah kehilangan stok. Tapi kali ini spesial, sebab novel fantasi kali ini adalah novel Indonesia, berjudul Enthirea: Pertempuran Dua Dunia yang ditulis oleh mas Aulya Elyasa, penulis muda berbakat tanah air.Buku ini berkisah tentang Enthirea, sebuah dunia dimana sihir berkuasa. Dahulu kala, terjadi peperangan besar di Enthirea ketika Orgath, salah satu putra Vauri, Raja para Dewa, mencoba menjatuhkan ayahnya dengan menghancurkan semua ciptaan dewa di Enthirea. Untuk melawan Orgath, Vauri memberikan medali yang menyimpan kekuatan dewa kepada orang yang terpilih sebagai pelindung Enthirea. Orgath berhasil dijatuhkan dan dipenjarakan. Kedamaian pun datang ke Enthirea, tetapi para pelindung dan medalinya menghilang.
Seribu tahun setelahnya, Elyaz, pemuda penebang kayu miskin yang tinggal di kota Faerun di tepi hutan Ereantera datang ke sebuah kota Elf di dalam hutan, Eslunia. Di sana ia bertemu elf pria bernama Lefial (yang hampir membunuhnya) dan elf wanita bernama Arvea, yang merupakan putri dari Isfar, pemimpin elf Eslunia. Di sana ia mengetahui kenyataan tentang perang besar masa lampau dan fakta mengejutkan bahwa medali yang diwarisinya dari ayahnya adalah salah satu medali para pelindung, medali Gretiani. Elyaz pun mengetahui takdirnya sebagai pelindung baru Enthirea, ketika sekarang Orgath kembali.
Sebagai pelindung, Elyaz dilatih sihir dan ilmu pedang oleh elf yang hampir membunuhnya, Lefial yang ternyata jendral Eslunia. Awalnya hubungan mereka tidak baik, tetapi seiring waktu mereka menjadi sahabat erat. Elyaz juga menaruh hati Arvea, yang selalu bersikap baik padanya. Tetapi, Arvea mencintai Lefial dan sebaliknya sehingga Elyaz hanya berharap. Sampai tiba hari dimana Isfar meminta Elyaz, Arvea, dan Lefial membantu kota Faerun yang menjadi target pertama pasukan kegelapan Orgath. Sayangnya Faerun jatuh, dan demi menyelamatkan Arvea dan Elyaz, Lefial mengorbankan nyawanya.
Bersama semua bangsadi Enthirea, Elyaz bersiap menghadapi pasukan kegelapan. Takdir membawanya bertemu dengan 3 pelindung lainnya, elf hitam Zatra, penyihir druid Asynia, dan pemuda bernama Alator. Kekuatan yang membuat para pejuang berniat menghadapi pasukan kegelapan secepat mungkin. Elyaz tidak yakin, sebab seharusnya ada delapan pelindung. Akhirnya takdirlah yang menentukan bagaimana akhir perjuangan bangsa-bangsa Enthirea ini.
Penasaran??? Lanjutan membaca bukunya dong!! Saksikan bagaimana perang berakhir dengan ... (spoiler!!) tragis. Tragis bagaimana?? Hi..hi.. keren lhoe endingnya, membuat kita harus melanjutkan membaca di buku kedua Enthirea II : Delapan Pelindung.
Hmm, walaupun ini novel Indonesia jangan dipandang enteng! memang temanya masih tema barat, tetapi alur kisah, isi kisah, dan karakternya TOP deh! HANYA, kelemahan fatal adalah penceritaanya cepat banget, terutama di bagian awal dan akhir. Maksudnya, irit banget cara mejabarkan setting dan kejadian. Jadi pendalamannya kurang, (terutama ending) Terus masalah logika, bahkan amatiran kayak aku juga ngerasa banyak hal ganjil. Selain itu dialognya kok kurang menggambarkan karakternya ya.
Tetapi peceritaan di bagian tengah cerita cukup bagus. Ceritanya juga menarik lho!! Selain itu, mas Elyas kreatif deh cara menulis prolog dan epilognya (aku suka baget prolognya! buat penasaran) Seandainya cerita ini diceritakan dengan pendalaman, teknik, dan kedetilan Lord of the Rings (lah, jadi dibandingin!) pasti bisa ngalahin Harry Potter deh!! So, baca lho! wajib!
Subscribe to:
Posts (Atom)

