Showing posts with label opini novel. Show all posts
Showing posts with label opini novel. Show all posts

Thursday, April 23, 2009

Eragon, Eldest, Brisingr. Semakin bagus kah???

Ho..ho.. judulnya buat penasaran, ya. Padahal isinya sih agak subjektif dari sudut pandangku. Selain itu, jelas banget kalau aku ingin ngebahas buku ketiga dari the inheritance cycle, tak lain dan tak bukan, Brisingr.

Banyak yang berpendapat bahwa di antara ketiga buku itu, Brisingr adalah yang terbaik (dan tertebal juga!). Aku SANGAT setuju. Salah satu buku terbaik yang kubaca (selain Harry Potter 7, tentunya). Bagian awalnya aja udah langsung cool, menyerang Ra'zac di Helgrind. Pernikahan Roran dan Katrina. Lalu kejadian-kejadian lain yang oke banget, begitu banyak sampai gak bisa kutulis.

Tapi, ada beberapa hal yang menarik perhatianku sebagai fans di cerita ini:
  1. Hukuman yang diberikan Eragon kepada Sloan. Aku setuju 100 % dengan Nasuada dan Orrin yang mendukung Eragon. Kita, dan banyak orang lainnya, tidak memiliki hak untuk menentukan hidup matinya seseorang. Seperti yang dikatakan Oromis pada Eragon, "Jagalah jangan sampai tangan ini menjadi tangan seseorang yang menikmati pertempuran"
  2. Aku memperhatikan saat Murtagh menangguhkan pertempurannya dengan Eragon untuk mendengar cara mengakhiri perbudakannya dari Galbatorix. Walaupun di Eldest aku merasa Murtagh menikmati keadaannya, ternyata tidak. Mungkin ada rasa senang dengan kekuatannya sekarang (seperti pemikiran Eragon, dunia selama ini tidak berpihak pada Murtagh dan sekarang Murtagh ingin membalaskan rasa sakitnya pada dunia), tetapi Murtagh sangat ingin bebas. Rasanya miris banget kalau ingat perkataan Murtagh pada Oromis, sesaat sebelum Galbatorix menguasainya, "Terkutuk kau karena tidak muncul sebelum ini! Seharusnya kau bisa menolong kami".
  3. Bulu kudukku meremang di saat Galbatorix berbicara. Penjabaran Paolini tentang suara Galbatorix memang tepat. Dari perkataannya saja bisa diduga, betapa licik, lihai, dan berbahayanya dia. Ditambah lagi, aura-nya berbeda dari aura tokoh antagonis di berbagai buku yang pernah kubaca. He is different!! Paolini tidak butuh menjabarkan betapa licik dan berbahayanya dia secara langsung, satu-dua kalimat dialog sudah cukup bagi kita untuk memahami dia bukan sekedar musuh biasa. Kalimat semanis madu yang berisi racun yang mematikan. Bahkan aku aja nyaris menganggap kata-katanya ada benarnya! Ck..ck..,tambah nggak sabar untuk baca final battle-nya di buku keempat deh!
  4. Kemarahan Oromis saat berbicara dengan Galbatorix menyita perhatianku. Kita mengenalnya sebagai orang yang selalu bisa mengendalikan diri di situasi apapun, tetapi pada saat itu saja kita bisa merasakan emosinya, dan emosi Glaedr juga. Dia bukan orang yang akan menghujat seseorang, tetapi khusus dan hanya untuk Galbatorix, kita bisa merasakan kebencian yang dalam dari kata-kata Oromis. Well, itu wajar banget, kan! mengingat semua yang sudah dilakukan Galbatorix
  5. Terakhir, saat-saat Oromis mati dan Glaedr merasakan kehilangan yang sangat mengerikan. Seperti itukah rasanya jika naga atau penunggangnya mati? Walau sudah dijabarkan bahwa kehilangan salah satu akan membuat yang lain gila, aku selalu berpendapat bahwa tidak sebegitu mengerikan, mengingat Brom masih bertahan. Saat itulah aku benar-benar paham. Jika Glaedr yang sudah mempersiapkan diri sekian lama saja masih begitu shock, bagaimana dengan para penunggang dan naga lain yang masih muda dan masih membutuhkan satu sama lain? seperti kata Eragon, tidak heran Galbatorix jadi gila karena kematian naganya.

Itu sedikit yang menarik dari segi cerita. Sementara dari segi teknis ..., aku suka banget cara Paolini mengisahkan dari beberapa sudut pandang. Dari Eragon, Saphira, Roran, dan terakhir Glaedr. Dari sudut pandang Saphira, aku senyum-senyum kalau membaca dan merasakan kebanggaan dan harga diri Saphira saat membacanya. Juga rasa sayangnya kepada Eragon. Selama ini kita hanya tahu rasa sayang Saphira dari sudut pandang Eragon, ternyata, rasa sayangnya jauh lebih besar daripada yang dia tampilkan ya?

Baik penceritaan dari sudut pandang Saphira dan Glaedr membuat kita dapat melihat bagaimana naga melihat dunia ini dan berpikir (dari sudut pandang naga, tentunya). ternyata, agak berbeda dari yang selama ini kulihat dari sudut pandang Eragon. Naga punya kebanggaan dan harga diri sendiri, keunikan sendiri, cara memandang suatu situasi, dll. pokoknya semakin terasa manusiawi deh! kurasa Paolini yang pertama menggambarkan sosok naga dengan cara seperti ini.

Walau buanyaaaak banget yang OK, masih terasa juga yang mengganjal dan kurang nyaman. Seperti panjangnya kisah pertempuran Roran dikisahkan. Menarik sih (dan penting juga!), tapi agak kepanjangan. terutama waktu bagian misi kedua Roran. Padahal lagi penasaran gimana kelanjutan perjalanan Eragon. Tapi, yah ini pendapat aku pribadi sih!! Well, senang banget kalo ada yang nambahin, dan jangan marah ya kalo belum baca dan malah kena spoiler! ^_^ (Thanks!)

Hello! Info untuk kalian bahwa kabar resmi tentang judul, kaver, tanggal terbit dan ringkasan di belakang kaver buku ke-4 akhirnya sudah di-publish secara resmi. Cek di sini.

Tuesday, February 24, 2009

Di Antara Semua Buku Dan Brown, Mana yang paling Oke ???

Waw, tulisan yang satu ini sepertinya sangat subyektif (karena saya yang nulis ^_^). tetapi, pernahkah terbesit di pikiran anda, dari semua buku DanBrown (yang memang semua bagus itu) mana yang paling oke?? Emang tulisan yang satu ini sangat merupakan opini dari saya, karena itu semua masukan dan kritik akan saya terima. So, jangan marah ya kalo kita gak sependapat !!!!

Pertama, dari segi kejutan-kejutan besar, menurutku yang kejutannya paling oke adalah The Angel and Demon. Ini oke banget dari segi kejutan, terutama di bagian kenyataan mengenai siapa dalang di balik rencana penghancuran Vatikan tersebut. Benar-benar gak disangka kan.. (Ups, jangan sampai kelepasan. Kasihan kalau ada yang belum baca coz kejutannya mantap sekalee!)

Walaupun gaungnya masih kalah dibanding The Da Vinci Code (wajar! kalau mengingat isi cerita dan rahasia di Angel and Demon yang nggak terlalu kontroversial). Saya selalu berpendapat bahwa alur dan cara penceritaan di Angel and Demon itu sesungguhnya lebih baik dibanding The Da Vinci Code. terutama ketika penceritaan berpindah dari sudut pandang Robert Langdon ke sudut pandang si pembunuh itu. perpindahannya terasa lebih lancar dan elegan dibandingkan The Da Vinci Code. (Ini pendapat pribadi saya lho!)

Dari sisi kejutan, di tempat kedua adalah Digital Fortress. Sama seperti Angel and Demon, siapa sangka yah bahwa dalang dibalik semua pembunuhan itu adalah ... (secret!) Selain itu, kebohongan Tankado, kebenaran mengenai apa itu sebenarnya Benteng Digital, efek apa yang disebabkan oleh keberadaan Benteng Digital, dan cara pemecahan kode Benteng Digital itu sendiri luar biasa. Sederhana, tetapi luput dari pemikiran. Menurut saya pribadi, Digital Fortress memiliki paling banyak kejutan "berkualitas".

Lalu, bagaimana dengan The Da Vinci Code sendiri? Menurutku ni buku masuk sebagai buku paling oke dari segi pengisahan. Maksudnya, buku yang paling buat "mudeng" ya ni buku. Mudah dicerna dan dipahami betapa penting dan fatalnya rahasia yang akan terbongkar ini (Mungkin karena faktor rahasianya yang emang umum dan oke ^_^). Selain itu ni novel merupakan novel dengan ending ter-elegan (Kalau udah baca, paham kan?)

Monday, January 05, 2009

Begitu Banyak Kematian di Deathly Hallows. Perlukah??


Para Pottermania di seluruh dunia pasti begitu tersentak dengan buku ketujuh, Harry Potter and the Deathly Hallows. Begitu gelap, begitu banyak pengorbanan dan begitu banyak kematian. Buku ini menghantam para fans sedemikian rupa, dan banyak yang mengatakannya sebagai akhir yang tragis untuk sebuah epik sepanjang masa . Walaupun ada juga yang berkata bahwa ini merupakan sebuah akhir yang elegan untuk kisah ini. Saya termasuk dalam kelompok yang kedua.

Kenapa saya termasuk kelompok yang kedua? Begini, J.K. Rowling sudah memberikan begitu banyak pesan dalam karyanya ini. Persahabatan, cinta, kesetiaan, dan yang begitu kental di Deathly Hallows, pengorbanan. Menurut saya, kematian-kematian di Deathly Hallows menegaskan semua pesan yang ingin disampaikan Rowling pada kita.

Gampangnya, selama kita membaca buku Harry Potter, pernahkah kita benar-benar menyadari betapa kejamnya Voldemort dan rezimnya? Akui saja, kita hanya mengetahui betapa kejamnya dia berdasarkan apa yang diceritakan kepada Harry. Kita jarang, tidak pernah malah, menyaksikan secara langsung kekejaman itu. Bahkan setelah Voldemort sudah mulai membunuh (seperti yang kita saksikan pada buku ke-4) kita memang menganggapnya kejam, tetapi masih dalam batas normal dan belum melampaui “sekedar jahat”.

Bagi saya pribadi, terjadi perubahan 180° pada Deathy Hallows. Begitu banyak kematian, begitu banyak pengorbanan, dan begitu banyak kehilangan. Saya rasa, baru pada buku ketujuh inilah kita baru benar-benar sadar akan kekejaman Voldemort.

Untuk menjatuhkan rezim ini, perjuangan yang sangat panjang harus dilalui oleh Harry, Ron, Hermione, dan para pejuang kebebasan lainnya. Rowling ingin menunjukkan bahwa perjuangan ini tidak mudah. Ada banyak halangan yang menghadang dan pengorbanan yang harus dilakukan. Rowling ingin novelnya bukan sekedar novel ‘happy ending’ biasa dimana semua tokoh utama berhasil melewati hadangan dan kejahatan dikalahkan. Yup, memang ujungnya sih kejahatan memang kalah, TETAPI dengan begitu banyaknya kematian tokoh utama, novel ini jelas berbeda dengan kebanyakan kisah yang “tidak peduli apapun rintangannya, semua pasti selamat” (nggak bermaksud menyindir, lho ^_^)

Semua kematian di Deathly Hallow menunjukkan betapa mahalnya perjuangan menjatuhkan Voldemort. Semua kematian dan kehilangan itu merupakan sebuah harga yang harus dibayar untuk kebebasan. Para pejuang yang gugur itu menyimbolkan semangat pantang menyerah untuk memperoleh kebebasan dan kemerdekaan. Mereka rela mati untuk memberikan orang-orang yang mereka cintai sebuah zaman baru, dimana mereka semua dapat menghirup kebebasan dan kedamaian.

Aku menulis ini bukan karena aku suka dengan kematian (sama sekali tidak suka malah!). Aku hanya ingin menyampaikan pandanganku akan ending mengejutkan epik Harry Potter kesayanganku ini. Aku juga ingin mengajak para fans untuk lebih mendalami arti-arti dari tulisan Rowling (walau aku yakin banyak fans yang juga memahami artinya).

Pokoknya empat jempol buat Rowling deh .....!!!