Setelah sekian lama akhirnya saya berhasil juga mendapatkan novel Vandaria terbaru, NEDERA, karya mbak Alexia Chen. Jujur saja, saya mungkin merasa lebih senang lagi karena saya mendapat novel ini gratisan cuma karena iseng ikut nge-tweet waktu sedang mengerjakan proposal skripsi di perpustakaan (^_^). Yah, rezeki memang tidak hilang kemana-mana. Jadi, saya merasa bertanggung jawab untuk mereviewnya di blogku ini.
(Jujur saja, mbak Melody. Saya sempat khawatir nggak jadi dapat novel ini karena sudah lama ditungguin kok belum sampai juga di pondokan KKN saya)
Nedera adalah salah satu novel yang merupakan bagian dari Vandaria Saga, franchise fantasi karya anak bangsa terbaik dan terbesar saat ini. Semua orang dapat berkontribusi ke dunia Vandaria, baik apakah Anda menyukai novelnya, card game-nya (Vandaria Arkana!), atau sektor lainnya.
Nedera bersetting di Provinsi Valta, Kerajaan Blackmoon. Yup, jika anda adalah seorang Vandarian mungkin Anda akan berpendapat, "Oke, Blackmoon lagi. Kurang-lebih jelaslah apa seting cerita utamanya." Untuk Anda yang belum mengetahuinya, yakinlah bahwa kisah Vandaria yang bersetting di Blackmoon (baca: menuju masa Invasi Kegelapan) menjanjikan kisah yang penuh aksi, misteri, cerita yang keren, (mungkin) horor, dan DEIMOS!!
Buku ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik separuh frameless, Lyse dan Leofric. Lyse adalah seorang gadis yang menyenangkan. Awalnya, ia, kakaknya, dan kedua orantuanya tinggal dengan damai di desa Haven, provinsi Valta. Akan tetapi, setahun yang lalu kedua orangtuanya pergi secara mendadak dan belum kembali hingga saat ini. Sejak kepergian kedua orangtuanya, sifat kakak Lyse, Leofric, berubah. Sejak kepergian orangtua mereka Leofric menjadi lebih pendiam, dingin, dan keras. Leofric juga sangat protektif terhadap Lyse. Lyse merasa terasing dan kesepian. Mereka jarang memiliki waktu untuk bicara berdua. Leofric selalu menghindari pembicaraan tentang orang tua mereka.
Namun, permasalahan yang lebih mengerikan telah menanti. Sudah beberapa tahun terakhir ini Lyse dan Leofric merasakan semacam aura gelap yang menggantung di udara. Ini adalah hal yang aneh karena tidak ada manusia dan frameless biasa yang mampu merasakan aura gelap itu. Ibu mereka berpendapat bahwa itu adalah hal yang wajar sebagai separuh frameless yang mewarisi darah marga Tordynn, tetapi ia tidak menjelaskan apa yang menjadi penyebab aura itu. Rasa penasaran Lyse semakin menjadi karena aura itu menjadi semakin kuat sejak kepergian orang tua mereka dan karena Leofric menolak untuk membicarakannya.
Akhirnya, pada suatu hari Lyse bertemu dengan seorang pemuda bernama Skys. Pemuda itu menarik perhatian Lyse karena banyak alasan. Akan tetapi, betapa kagetnya Lyse saat Skys meminta bantuannya untuk menyelamatkan adik dan desanya, Nedera, dari cengkeraman makhluk yang selama ini hanya dianggap sebagai legenda, Deimos. Deimos adalah makhluk kegelapan yang merupakan perwujudan kengerian dan berbagai aura negatif di Vandaria. Deimos dianggap sebagai lawan dari Vanadis, para pencipta dan pengatur. Deimos adalah penghancur dan perwujudan kekacauan. Konon, jauh di masa awal penciptaan, terjadi perang besar dimana Vanadis berhasil mengurung deimos di alam neraka, Reigner.
Sinopsis, kritik, review, dan kabar terhangat SEMUA buku yang sudah kubaca. Mana bukumu? Ayo bergabung!
Showing posts with label novel Indonesia. Show all posts
Showing posts with label novel Indonesia. Show all posts
Sunday, July 14, 2013
Tuesday, January 15, 2013
Vandaria Saga: Redfang
Nah, berhubung dalam beberapa bulan terakhir ini saya berkenalan dengan dunia Vandaria, saya kena panah "cupid" dunia fikfan Indonesia. Jadi, posting ini sekaligus 'meresmikan' label baru di blog ini: Fikfan Indonesia.
Bagi kalian yang belum berkenalan dengan dunia Vandaria, penjelasan sederhana tentang Vandaria adalah ini merupakan proyek anak bangsa dimana penggiat kreatif Indonesia dari berbagai kalangan (novelis, komikus, ilustrator, programer, dll) bersama menciptakan karya-karya dengan latar dunia yang sama: Dunia Vandaria. Bersama menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Jadi, Vandaria terdiri dari berbagai lini produk; novel fantasi, trading card games, komik, dan (semoga) film sampai game RPG!!!!! Semuanya dengan satu latar sama, yakni Vandaria, dengan dasar hikayat yang sama, tetapi dapat berbeda tokoh, tempat, atau waktu. Kebebasan tetap pada penulis selama sesuai dengan pakem dasar (Deskripsi ini benar tidak ya, para sesepuh?).
Nah, dari sekian banyak novel Vandaria, mana dulu yang akan saya review. Berhubung bulan Januari ini sedang demam novel terbaru, jadi isaya rasa novel itu dahulu yang saya review. Jadi mari kita bahas dulu novel Vandaria bulan Januari ini: Redfang, by bos abang Fachrul R.U.N. Bagi pihak yang sudah mengenal nama ini, pasti paham bahwa tulisan penulis yang satu ini menjamin sebuah kisah yang dahsyat, tapi sadis bin kejam dan persiapkan diri dengan kematian tokoh penting. Ruler of nightmare yang satu ini memang tidak punya rasa empati untuk karakter ciptaannya sendirii (^_^).
Jadi, Redfang adalah salah satu novel Vandaria yang berseting waktu pada era Kristal Merah (era ini sekitar 1 IV-250 IV. Semoga saya tidak salah ingat). Era ini adalah era kritis yang merupakan masa transisi antara era Vandaria yang sebelumnya didominasi kaum frameless dengan era dimana manusia dan frameless hidup setara, bersama dengan damai. Untuk yang belum tahu, frameless adalah ras khusus selain manusia yang hidup di Vandaria dan memiliki berbagai keistimewaan seperti usia panjang, penampilan fisik, dan kemampuan sihir. Sederhananya, dapat bayangkan saja karakter elf khusus dunia Vandaria.
Kisah kita ini mengambil seting tempat di salah satu kerajaan manusia, yakni Kerajaan Blackmoon. Tokoh utama kita adalah Cassius Redfang, pemimpin keluarga Redfang, salah satu keluarga bangsawan yang dihormati di Kerajaan Blackmoon. Posisinya sebagai penguasa Redfang ternyata tidak didapatnya dengan bersih. Delapan tahun sebelum kisah ini dimulai, Cassius membunuh adiknya, Velius, demi mendapatkan posisi warisan ayahnya ini. Pembunuhan yang dirancang secara hati-hati dan penuh rahasia ini berhasil membawanya menjadi penguasa Canivius. Semuanya berjalan lancar, hingga istrinya mendapat mimpi ganjil yang menyatakan bahwa adiknya, Velius, ternyata telah kembali.
Awalnya, Cassius tidak mempercayai istrinya. Istrinya, Avenia Mordino, adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Akan tetapi, dahulu ia merupakan tunangan Velius dan hubungan mereka amat erat. Hilangnya Velius membuat Avenia depresi hingga bahkan nyaris terjerumus ke kegilaan. Cassius tetap mencintai dan melamarnya, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa istrinya belum dapat melupakan Velius. Itulah mengapa awalnya ia tidak menganggap serius celotehan istrinya. Sampai saat istrinya menyebut-nyebut tentang hutan dimana ia membunuh adiknya itu.
Entah ini adalah keajaiban, berkat Vanadis, atau hanya perbuatan seorang penipu, di hutan itu Cassius benar-benar bertemu dengan adiknya, Velius, yang seharusnya sudah ia bunuh delapan tahun yang lalu. Velius menunjukkan bahwa ia mengingat semua yang telah dilakukan oleh Cassius, dan bertekad untuk membuat Cassius membayar semua itu.
Secara perlahan dan menyakitkan, rasa khawatir menggerogoti batin Cassius. Karena semua yang ia miliki dan perjuangkan kini berada di ujung tanduk. Semua usahanya untuk mempertahankannya gagal dengan kematian para pendukung dan orang kepercayaannya. Ketika orang yang seharusnya mendukungnya bahkan menelikungnya dari berbagai sisi. Apakah ia memang berhak menerima ini semua? Ataukah ini memang hukuman dari Vanadis? Atau adakah sesuatu yang lain?
Setelah berhasil mengentak para Vandarian dengan survival horror-nya yang super dahsyat di Hailstorm, bang Fachrul sekarang mencekam para Vandarian dengan psychologycal horror-nya di Redfang. Saya memang bukan ahli teknik kepenulisan, tetapi saya merasa abang Fachrul memang selalu selangkah lebih maju secara teknis daripada penulis Vandaria lain. Bukannya mengenyampingkan penulis Vandaria lain, tetapi bang Fachrul menampilkan sesuatu yang baru di Redfang: tokoh utama yang lebih ke arah anti-hero.
Bagi kalian yang belum berkenalan dengan dunia Vandaria, penjelasan sederhana tentang Vandaria adalah ini merupakan proyek anak bangsa dimana penggiat kreatif Indonesia dari berbagai kalangan (novelis, komikus, ilustrator, programer, dll) bersama menciptakan karya-karya dengan latar dunia yang sama: Dunia Vandaria. Bersama menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Jadi, Vandaria terdiri dari berbagai lini produk; novel fantasi, trading card games, komik, dan (semoga) film sampai game RPG!!!!! Semuanya dengan satu latar sama, yakni Vandaria, dengan dasar hikayat yang sama, tetapi dapat berbeda tokoh, tempat, atau waktu. Kebebasan tetap pada penulis selama sesuai dengan pakem dasar (Deskripsi ini benar tidak ya, para sesepuh?).
Nah, dari sekian banyak novel Vandaria, mana dulu yang akan saya review. Berhubung bulan Januari ini sedang demam novel terbaru, jadi isaya rasa novel itu dahulu yang saya review. Jadi mari kita bahas dulu novel Vandaria bulan Januari ini: Redfang, by bos abang Fachrul R.U.N. Bagi pihak yang sudah mengenal nama ini, pasti paham bahwa tulisan penulis yang satu ini menjamin sebuah kisah yang dahsyat, tapi sadis bin kejam dan persiapkan diri dengan kematian tokoh penting. Ruler of nightmare yang satu ini memang tidak punya rasa empati untuk karakter ciptaannya sendirii (^_^).
Jadi, Redfang adalah salah satu novel Vandaria yang berseting waktu pada era Kristal Merah (era ini sekitar 1 IV-250 IV. Semoga saya tidak salah ingat). Era ini adalah era kritis yang merupakan masa transisi antara era Vandaria yang sebelumnya didominasi kaum frameless dengan era dimana manusia dan frameless hidup setara, bersama dengan damai. Untuk yang belum tahu, frameless adalah ras khusus selain manusia yang hidup di Vandaria dan memiliki berbagai keistimewaan seperti usia panjang, penampilan fisik, dan kemampuan sihir. Sederhananya, dapat bayangkan saja karakter elf khusus dunia Vandaria.
Kisah kita ini mengambil seting tempat di salah satu kerajaan manusia, yakni Kerajaan Blackmoon. Tokoh utama kita adalah Cassius Redfang, pemimpin keluarga Redfang, salah satu keluarga bangsawan yang dihormati di Kerajaan Blackmoon. Posisinya sebagai penguasa Redfang ternyata tidak didapatnya dengan bersih. Delapan tahun sebelum kisah ini dimulai, Cassius membunuh adiknya, Velius, demi mendapatkan posisi warisan ayahnya ini. Pembunuhan yang dirancang secara hati-hati dan penuh rahasia ini berhasil membawanya menjadi penguasa Canivius. Semuanya berjalan lancar, hingga istrinya mendapat mimpi ganjil yang menyatakan bahwa adiknya, Velius, ternyata telah kembali.
Awalnya, Cassius tidak mempercayai istrinya. Istrinya, Avenia Mordino, adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Akan tetapi, dahulu ia merupakan tunangan Velius dan hubungan mereka amat erat. Hilangnya Velius membuat Avenia depresi hingga bahkan nyaris terjerumus ke kegilaan. Cassius tetap mencintai dan melamarnya, tetapi ia sadar sepenuhnya bahwa istrinya belum dapat melupakan Velius. Itulah mengapa awalnya ia tidak menganggap serius celotehan istrinya. Sampai saat istrinya menyebut-nyebut tentang hutan dimana ia membunuh adiknya itu.
Entah ini adalah keajaiban, berkat Vanadis, atau hanya perbuatan seorang penipu, di hutan itu Cassius benar-benar bertemu dengan adiknya, Velius, yang seharusnya sudah ia bunuh delapan tahun yang lalu. Velius menunjukkan bahwa ia mengingat semua yang telah dilakukan oleh Cassius, dan bertekad untuk membuat Cassius membayar semua itu.
Secara perlahan dan menyakitkan, rasa khawatir menggerogoti batin Cassius. Karena semua yang ia miliki dan perjuangkan kini berada di ujung tanduk. Semua usahanya untuk mempertahankannya gagal dengan kematian para pendukung dan orang kepercayaannya. Ketika orang yang seharusnya mendukungnya bahkan menelikungnya dari berbagai sisi. Apakah ia memang berhak menerima ini semua? Ataukah ini memang hukuman dari Vanadis? Atau adakah sesuatu yang lain?
Setelah berhasil mengentak para Vandarian dengan survival horror-nya yang super dahsyat di Hailstorm, bang Fachrul sekarang mencekam para Vandarian dengan psychologycal horror-nya di Redfang. Saya memang bukan ahli teknik kepenulisan, tetapi saya merasa abang Fachrul memang selalu selangkah lebih maju secara teknis daripada penulis Vandaria lain. Bukannya mengenyampingkan penulis Vandaria lain, tetapi bang Fachrul menampilkan sesuatu yang baru di Redfang: tokoh utama yang lebih ke arah anti-hero.
Saturday, December 19, 2009
Jihad Terlarang: Cerita dari Bawah Tanah
Sampai sekarang masih banyak orang-orang yang bertanya-tanya: "kenapa masih ada saja orang-orang yang dapat dihasut oleh organisasi-organisasi ekstrem yang yang berdalih berdasarkan agama? Bukankah sudah jelas bahwa organisasi tersebut justru bertentangan dengan agama. Lalu, mengapa????
Nah, puluhan (bahkan ada ratusan, mungkin) pertanyaan yang menghantui pikiran masyarakat mengenai kehidupan dunia bawah tanah itu. Mengapa anggotanya dapat begitu percaya dan setia walaupun harus mengorbankan keluarga sendiri. Semua ini (mungkin) dapat dijawab dalam novel spektakuler ini, Jihad Terlarang: Cerita dari Bawah Tanah karya Mataharitimoer, nama pena dari Eddy Prayitno. Buku ini bersetting masa Orde Baru. Kisahnya sendiri bercerita tentang Royan, seorang pemuda yang memiliki dendam pada pemerintahan Orde Baru. Ayahnya ditembak oleh tentara saat menghadiri sebuah acara pengajian massal. Ibunya kemudian juga meninggal karena sedih dan tidak terima suaminya mati dengan cara mengenaskan seperti itu. Sejak itu, Royan menjadi gelandangan dan memendam dendam kepada pemerintah.
Hidup Royan yang tak terarah ini berubah ketika ia bertemu dengan seorang kernet metromini yang bernama Supar. Pertemanan Royan dan Supar dimulai ketika Supar menolong Royan yang sedang dikeroyok oleh preman terminal. Sejak saat itu, Supar sering menemui Royan dan sering mengajaknya makan bersama. Persahabatan mereka pun semakin dekat. Supar sering mengajak Royan untuk menginap di rumahnya, terutama jika keadaan tidak memungkinkan bagi Royan untuk tidur di terminal. Atau, mungkin lebih tepat jika dikatakan Supar mengajak Royan tidur di sebuah masjid tidak jauh di belakang rumahnya yang kecil. Masjid itu dinamakan Masjid Kubah Langit.
Kedatangannya ke masjid ini mengubah hidup Royan selamanya. Di sana ia diajak Supar dan teman barunya, Malik, untuk bergabung dengan Remaja Masjid Kubah Langit. Tentu saja, Royan bersedia. Pertemanannya dengan Malik dan Supar yang baru seumur jagung itu sudah cukup untuk mengetuk kembali hati Royan yang rindu akan kedamaian rohani, bagian dirinya yang sudah lama diabaikannya sejak kematian kedua orang tuanya. Sejak hari itu, Royan bertekad untuk kembali ke jalan agama yang sudah lama dilupakannya.
Di masjid kubah langit ini Royan juga berkenalan dengan empat ustadz muda, yakni Ustadz Rafiq, Ustadz Umar, Ustadz Luthfi, dan Ustadz Ahmad. Mereka berbeda dengan para ustadz dan kiai yang selama ini dikenal Royan. Mereka berpenampilan seperti anak muda dan akrab dengan para remaja masjid. Mereka juga bersikap sebagai teman, dan tidak menggurui. Hal inilah yang membuat Royan dekat dengan mereka.
Ternyata, keempat ustadz muda itu, termasuk Supar dan Malik, adalah anggota sebuah gerakan Islam bawah tanah. Sebuah gerakan yang menentang rezim Orde Baru yang dianggap mendiskreditkan Islam dan juga otoriter. Gerakan ini tidak mengakui Pancasila dan bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara berdasar Islam di Indonesia.
Setelah mendengar semua penjelasan para ustadz muda, Royan menjadi yakin bahwa inilah jalan yang paling tepat untuknya. Ia merasa yakin dan terpanggil untuk ikut berjuang dalam menegakkan panji Islam di tanah Indonesia. Ia lalu menyatakan kesetiaannya pada Gerakan, dan saat itu, ia menjadi aktivis full-time.
Berpindah-pindah tempat tinggal dan perlindungan menjadi hal yang biasa bagi Royan. Beberapa bulan setelah ia bergabung dengan Gerakan, tentara mencium aktivitasnya dan ia mengungsi ke tempat perlindungan lain. Ia kemudian terpisah dengan keempat ustadz, Malik, dan Supar yang mendapat tugas di daerah lain. Ia menjadi salah satu kader yang paling loyal dan segera dipercaya untuk menjadi pemimpin suatu wilayah dan menjalankan aktivitas pengkaderan, terutama di kalangan mahasiswa.
Namun, semakin jauh Royan terlibat dalam kegiatan Gerakan, semakin ia menyadari banyaknya hal yang tidak beres dalam Gerakan. Royan menyadari bahwa terdapat banyak pelanggaran hukum agama dalam pelaksanaan kegiatan Gerakan, seperti penggunaan uang infak untuk kepentingan para petinggi Gerakan, sampai suap-menyuap yang ternyata juga menjamur di kalangan petinggi. Semakin Royan berpikir, semakin ia menyadari bahwa Gerakan yang dianggapnya sebagai jalan hidupnya ini ternyata lebih merupakan miniatur Orde Baru. Sampai akhirnya, sebuah kejadian meyakinkan Royan bahwa Gerakan sama bobroknya dengan pemerintah Orde Baru dan ia memutuskan untuk meninggalkan Gerakan selamanya.
Buku ini sangat inspiratif dan penuh informasi. Buku ini secara detiil menjabarkan bagaimana para pengader Gerakan memberikan doktrin dan "pencerahan" bagi orang-orang yang dianggap cocok menerima ajaran mereka. Saat membaca buku ini, aku bahkan merasa kalau yang mereka katakan ada benarnya juga, seperti perkataan Ustadz Lutfi yang menyatakan bahwa setiap muslim seharusnya taat kepada pemerintah yang berdasarkan Islam, bukan pemerintah lainnya.
Namun, ide yang bagus tidak selalu dapat diterapkan dengan bagus di lapangan. Hal inilah yang ditunjukkan buku ini. Bagaimana kekuasaan, dimanapun itu, ternyata seringkali mengikis idealisme, membuat orang sudi mengorbankan orang lain guna mendapatkan apa yang ia inginkan, bahkan mengorbankan orang-orang yang setia pada mereka.
Buku ini benar-benar membuka wawasan kita, membuat kita memahami dunia bawah tanah, pikiran dan pendirian orang-orang yang berada di sana, dan mengapa mereka memilih jalan itu. Membuat kita memahami motif dari sudut pandang mereka, tetapi sekaligus memberikan peringatan kepada kita untuk berhati-hati dalam memilih jalan dan keyakinan dalam hidup.
Saturday, October 31, 2009
Kisah yang Sering Terlupakan, Cerita Calon Arang
Kita sudah sering mendengar cerita rakyat. Cerita itu diwariskan dari mulut ke mulut dan sudah banyak yang mulai dilupakan. Tetapi, kali ini aku tidak akan berkisah tentang cerita rakyat itu secara umum, alias versi yang ada di masyarakat. Aku ingin bercerita tentang Calon Arang dari sudut pandang penulis Indonesia yang begitu melegenda, Pramoedya Ananta Toer, dalam salah satu bukunya, Cerita Calon Arang.Cerita Calon Arang berkisah tentang seorang perempuan tua yang jahat. Ia adalah pemilik teluh hitam dan pengisap darah manusia yang senang melihat manusia-manusia lain menderita. Ia pongah. Ia tidak bersedia ditentang. Semua "lawan politik" dibunuhnya. Ia punya banyak ilmu ajaib untuk membunuh orang, dan banyak murid untuk membantunya.
Cerita Calon Arang mengambil setting di masa pemerintahan Raja Erlangga dari kerajaan Daha (Kediri). Kerajaan Daha adalah kerajaan yang besar, dipimpin oleh raja mereka yang bijaksana. Namun, suatu hari, teror amat mengerikan mengancam seluruh negeri. Teror itu adalah sebuah penyakit mematikan yang disebarkan ke seluruh negeri oleh tak lain dan tak bukan, seorang wanita bernama Calon Arang.
Calon Arang adalah seorang pendeta wanita kuil Dewi Durga. Ia dikenal sebagai seorang wanita kejam yang sakti sehingga tidak ada orang yang berani menentangnya. Walaupun begitu, ia masih memiliki (satu-satunya) sisi baik, yakni kasih sayangnya kepada putrinya yang cantik jelita, Ratna Manggali. Sayangnya, walaupun Ratna Manggali cantik jelita dan berbudi baik, tidak ada pemuda yang berniat meminangnya karena ketakutan mereka pada Calon Arang.
Calon Arang yang merasa terhina karena perlakuan mereka pada putrinya lalu meneluh Kerajaan Daha. Ia bersama murid-muridnya memohon pada Dewi Durga untuk mengirimkan penyakit kepada semua warga Daha. Penyakit mematikan itu pun merajalela. Tidak ada yang dapat menghentikannya, baik para prajurit kerajaan maupun empu-empu sakti lainnya. Sampai akhirnya seorang empu sakti bernama Empu Baradah berhasil memunahkan teror ini dan mengembalikan kehidupan masyarakat Daha yang berantakan ke jalan yang benar dan damai.
Bukan Pramoedya namanya kalau tidak menulis kisahnya dengan tajam. Dengan tajamnya, sosok Calon Arang digambarkan sebagai "mesin pemusnah kemanusiaan", sebuah gambaran tentang sosok iblis di hati manusia. Beberapa aktivis feminis sering mengkrtitik tulisan Pramoedya ini dengan tajam sebab di dalamnya bias gendernya sangat jelas, tentang sosok perempuan kejam bernama Calon Arang dan murid-muridnya. Well, aku tidak sependapat. Menurutku, "iblis" bisa ada di hati manusia manapun. jika kau memang berniat untuk bertobat, Tuhan akan memaafkanmu, tetapi bila tobatmu hanya pura-pura, Ia juga mengetahuinya.
"Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara." - Pramoedya Ananta Toer
Sunday, March 29, 2009
Enthirea, Pertempuran Dua Dunia
YA-HA !!! Senang sekali akhirnya bisa menulis tentang buku fantasi lagi setelah saya kira saya sudah kehilangan stok. Tapi kali ini spesial, sebab novel fantasi kali ini adalah novel Indonesia, berjudul Enthirea: Pertempuran Dua Dunia yang ditulis oleh mas Aulya Elyasa, penulis muda berbakat tanah air.Buku ini berkisah tentang Enthirea, sebuah dunia dimana sihir berkuasa. Dahulu kala, terjadi peperangan besar di Enthirea ketika Orgath, salah satu putra Vauri, Raja para Dewa, mencoba menjatuhkan ayahnya dengan menghancurkan semua ciptaan dewa di Enthirea. Untuk melawan Orgath, Vauri memberikan medali yang menyimpan kekuatan dewa kepada orang yang terpilih sebagai pelindung Enthirea. Orgath berhasil dijatuhkan dan dipenjarakan. Kedamaian pun datang ke Enthirea, tetapi para pelindung dan medalinya menghilang.
Seribu tahun setelahnya, Elyaz, pemuda penebang kayu miskin yang tinggal di kota Faerun di tepi hutan Ereantera datang ke sebuah kota Elf di dalam hutan, Eslunia. Di sana ia bertemu elf pria bernama Lefial (yang hampir membunuhnya) dan elf wanita bernama Arvea, yang merupakan putri dari Isfar, pemimpin elf Eslunia. Di sana ia mengetahui kenyataan tentang perang besar masa lampau dan fakta mengejutkan bahwa medali yang diwarisinya dari ayahnya adalah salah satu medali para pelindung, medali Gretiani. Elyaz pun mengetahui takdirnya sebagai pelindung baru Enthirea, ketika sekarang Orgath kembali.
Sebagai pelindung, Elyaz dilatih sihir dan ilmu pedang oleh elf yang hampir membunuhnya, Lefial yang ternyata jendral Eslunia. Awalnya hubungan mereka tidak baik, tetapi seiring waktu mereka menjadi sahabat erat. Elyaz juga menaruh hati Arvea, yang selalu bersikap baik padanya. Tetapi, Arvea mencintai Lefial dan sebaliknya sehingga Elyaz hanya berharap. Sampai tiba hari dimana Isfar meminta Elyaz, Arvea, dan Lefial membantu kota Faerun yang menjadi target pertama pasukan kegelapan Orgath. Sayangnya Faerun jatuh, dan demi menyelamatkan Arvea dan Elyaz, Lefial mengorbankan nyawanya.
Bersama semua bangsadi Enthirea, Elyaz bersiap menghadapi pasukan kegelapan. Takdir membawanya bertemu dengan 3 pelindung lainnya, elf hitam Zatra, penyihir druid Asynia, dan pemuda bernama Alator. Kekuatan yang membuat para pejuang berniat menghadapi pasukan kegelapan secepat mungkin. Elyaz tidak yakin, sebab seharusnya ada delapan pelindung. Akhirnya takdirlah yang menentukan bagaimana akhir perjuangan bangsa-bangsa Enthirea ini.
Penasaran??? Lanjutan membaca bukunya dong!! Saksikan bagaimana perang berakhir dengan ... (spoiler!!) tragis. Tragis bagaimana?? Hi..hi.. keren lhoe endingnya, membuat kita harus melanjutkan membaca di buku kedua Enthirea II : Delapan Pelindung.
Hmm, walaupun ini novel Indonesia jangan dipandang enteng! memang temanya masih tema barat, tetapi alur kisah, isi kisah, dan karakternya TOP deh! HANYA, kelemahan fatal adalah penceritaanya cepat banget, terutama di bagian awal dan akhir. Maksudnya, irit banget cara mejabarkan setting dan kejadian. Jadi pendalamannya kurang, (terutama ending) Terus masalah logika, bahkan amatiran kayak aku juga ngerasa banyak hal ganjil. Selain itu dialognya kok kurang menggambarkan karakternya ya.
Tetapi peceritaan di bagian tengah cerita cukup bagus. Ceritanya juga menarik lho!! Selain itu, mas Elyas kreatif deh cara menulis prolog dan epilognya (aku suka baget prolognya! buat penasaran) Seandainya cerita ini diceritakan dengan pendalaman, teknik, dan kedetilan Lord of the Rings (lah, jadi dibandingin!) pasti bisa ngalahin Harry Potter deh!! So, baca lho! wajib!
Friday, February 06, 2009
Sebuah Jawaban, Saya Mujahid Bukan Teroris
Apakah perbuatan teroris beragama itu benar atau salah?
Saya tidak berniat untuk mengatakan saya ini muslim yang pro atau kontra. Tetapi pertanyaan inilah yang dicoba dijawab di karya luar biasa Muhammad B. Anggoro ini, Saya Mujahid Bukan Teroris. Sebuah karya agung yang mengajak kita yang kontra dengan aksi ini untuk memahami alasan kuat yang melatarbelakangi mereka dan memhami bagaimana mereka tidak sepenuhnya salah. Dan bagi para pendukung aksi-aksi terorisme ini, mengajak mereka mengetahui dan memahami berbagai kesalahan yang terkandung dalam cara mereka berjuang.
Berkisah tentang Ghofar, seorang mujahid yang pernah merasakan perih dan kengerian berperang di tanah jihad Afganistan. Sepulangnya dari Afganistan, kebencian dan kemarahannya kepada Amerika dan dunia Barat semakin menjadi. Ia dan keempat sahabatnya yang selamat dari Afganistan, ditambah dengan keahlian Ghofar merakit bom, memulai serangkaian pengeboman di negeri ini. Tetapi ketiga temannya tertangkap, sedangkan Ghofar dan seorang sahabatnya, Shobir, menjadi buronan polisi.
Tetapi, Ghofar menyadari ada yang tidak beres. Sejak melakukan pengeboman yang sudah menghilangkan ratusan nyawa itu, hatinya dipenuhi ketakutan-ketakutan tak terjelaskan. Ia, yang tidak pernah merasakan takut secuil pun selain kepada Allah, yang tidak pernah merasa takut setiap kali menantang pasukan Barat di Afganistan, bisa merasakan takut hanya karena dikejar polisi. Ia perlahan menyadari bahwa ia takut karena merasa bersalah. Bersalah karena membunuh ratusan nyawa yang tidak berdosa, bersalah karena sudah membunuh banyak saudara muslim, dan merasa bersalah karena cara jihadnya yang justru merugikan umat Muslim. Ia lalu memutuskan untuk berjuang dengan cara lain. Lewat pendidikan, diplomasi, dan akal. Maka ia memutuskan untuk menyerahkan diri. Tetapi, sahabatnya Shobir menentang dan tetap ingin berjuang sendiri. Maka mereka berpisah.
Enam tahun Ghofar mendekam di penjara dan begitu bebas ia bertekad untuk menjauhi kehidupan lama itu. Kehidupannya berjalan damai dan masyarakat mau menerimanya.Tetapi, beberapa saat kemudian muncul surat-surat tanpa nama, yang mengajaknya untuk kembali "berjuang". Ghofar gusar sekali. Surat-surat itu diyakininya berasal dari kelompok baru sahabat lamanya, Shobir. Ia bertekad untuk tidak akan kembali ke jalan yang diyakininya salah itu. Dengan dukungan anaknya, Asih dan muridnya, Fajar, Ghofar bertekad untuk membantu polisi dan pemerintah menghentikan aksi para teroris itu.
Tetapi, entah kenapa, si penulis surat itu selalu bisa mencium dan mendeteksi perbuatan Ghofar. Sampai akhirnya surat itu menyatakan bahwa Ghofar sudah ingkar dan mereka sudah tidak membutuhkanya lagi. Dimulailah serangkaian pengeboman di negeri ini. Tetapi, alangkah kagetnya Ghofar dan keluarganya ketika akhirnya mengetahui tangan siapakah yang sudah merampas begitu banyak kehidupan di negeri ini ....
Ditulis dengan begitu mengena pada topik permasalahan, tetapi juga perlu dibalut dengan kisah yang luaar biasaaaa. Itulah pendapat yang cocok untuk buku ini. Inti dari novel luar biasa ini memang berkisah tentang apa sebenarnya mujahid dan teroris. Tetapi, kisah yang digunakan untuk menceritakannya juga sangat luar biasa, Kedalaman dan alur kisahnya membuat saya terhenyak kagum.
Bagaimana tidak kagum? Saya memang amatir dalam dunia sastra, tetapi saya sangat jarang membaca karya Indonesia yang cara penceritaannya seperti ini. Pesan yang terkadung sangat peting dan mengena. Tetapi penyampaian pesan itu tidak kemudian mengorbankan kualitas kisah. Sekilas, novel ini begitu saja kisahnya, sampai kemudian ada sebuah kejutan hebat di tengah kisah. Rasanya seperti membaca bagian ending karya Agatha Christie atau Dan Brown saja (^_<). But, the most important, jangan lewatkan buku ini ....
Saya tidak berniat untuk mengatakan saya ini muslim yang pro atau kontra. Tetapi pertanyaan inilah yang dicoba dijawab di karya luar biasa Muhammad B. Anggoro ini, Saya Mujahid Bukan Teroris. Sebuah karya agung yang mengajak kita yang kontra dengan aksi ini untuk memahami alasan kuat yang melatarbelakangi mereka dan memhami bagaimana mereka tidak sepenuhnya salah. Dan bagi para pendukung aksi-aksi terorisme ini, mengajak mereka mengetahui dan memahami berbagai kesalahan yang terkandung dalam cara mereka berjuang.
Berkisah tentang Ghofar, seorang mujahid yang pernah merasakan perih dan kengerian berperang di tanah jihad Afganistan. Sepulangnya dari Afganistan, kebencian dan kemarahannya kepada Amerika dan dunia Barat semakin menjadi. Ia dan keempat sahabatnya yang selamat dari Afganistan, ditambah dengan keahlian Ghofar merakit bom, memulai serangkaian pengeboman di negeri ini. Tetapi ketiga temannya tertangkap, sedangkan Ghofar dan seorang sahabatnya, Shobir, menjadi buronan polisi.
Tetapi, Ghofar menyadari ada yang tidak beres. Sejak melakukan pengeboman yang sudah menghilangkan ratusan nyawa itu, hatinya dipenuhi ketakutan-ketakutan tak terjelaskan. Ia, yang tidak pernah merasakan takut secuil pun selain kepada Allah, yang tidak pernah merasa takut setiap kali menantang pasukan Barat di Afganistan, bisa merasakan takut hanya karena dikejar polisi. Ia perlahan menyadari bahwa ia takut karena merasa bersalah. Bersalah karena membunuh ratusan nyawa yang tidak berdosa, bersalah karena sudah membunuh banyak saudara muslim, dan merasa bersalah karena cara jihadnya yang justru merugikan umat Muslim. Ia lalu memutuskan untuk berjuang dengan cara lain. Lewat pendidikan, diplomasi, dan akal. Maka ia memutuskan untuk menyerahkan diri. Tetapi, sahabatnya Shobir menentang dan tetap ingin berjuang sendiri. Maka mereka berpisah.
Enam tahun Ghofar mendekam di penjara dan begitu bebas ia bertekad untuk menjauhi kehidupan lama itu. Kehidupannya berjalan damai dan masyarakat mau menerimanya.Tetapi, beberapa saat kemudian muncul surat-surat tanpa nama, yang mengajaknya untuk kembali "berjuang". Ghofar gusar sekali. Surat-surat itu diyakininya berasal dari kelompok baru sahabat lamanya, Shobir. Ia bertekad untuk tidak akan kembali ke jalan yang diyakininya salah itu. Dengan dukungan anaknya, Asih dan muridnya, Fajar, Ghofar bertekad untuk membantu polisi dan pemerintah menghentikan aksi para teroris itu.
Tetapi, entah kenapa, si penulis surat itu selalu bisa mencium dan mendeteksi perbuatan Ghofar. Sampai akhirnya surat itu menyatakan bahwa Ghofar sudah ingkar dan mereka sudah tidak membutuhkanya lagi. Dimulailah serangkaian pengeboman di negeri ini. Tetapi, alangkah kagetnya Ghofar dan keluarganya ketika akhirnya mengetahui tangan siapakah yang sudah merampas begitu banyak kehidupan di negeri ini ....
Ditulis dengan begitu mengena pada topik permasalahan, tetapi juga perlu dibalut dengan kisah yang luaar biasaaaa. Itulah pendapat yang cocok untuk buku ini. Inti dari novel luar biasa ini memang berkisah tentang apa sebenarnya mujahid dan teroris. Tetapi, kisah yang digunakan untuk menceritakannya juga sangat luar biasa, Kedalaman dan alur kisahnya membuat saya terhenyak kagum.
Bagaimana tidak kagum? Saya memang amatir dalam dunia sastra, tetapi saya sangat jarang membaca karya Indonesia yang cara penceritaannya seperti ini. Pesan yang terkadung sangat peting dan mengena. Tetapi penyampaian pesan itu tidak kemudian mengorbankan kualitas kisah. Sekilas, novel ini begitu saja kisahnya, sampai kemudian ada sebuah kejutan hebat di tengah kisah. Rasanya seperti membaca bagian ending karya Agatha Christie atau Dan Brown saja (^_<). But, the most important, jangan lewatkan buku ini ....
Sunday, December 21, 2008
Epik Budaya Indonesia, Ronggeng Dukuh Paruk

Pencinta sastra Indonesia pasti tahu nama Ahmad Tohari, kan??? Beliau adalah seorang sastrawan Indonesia yang sudah banyak menghasilkan karya-karya berkualitas. Salah satu karyanya yang paling dikenal di sastra Indonesia adalah Ronggeng Dukuh Paruk.
Novel apaan nih??? Fu..fu.. buat orang Indonesia yang (agak) awam mungkin emang nggak tahu, tetapi yang suka baca buku 70 % kemungkinan tahu buku ini. Kisahnya sendiri bertemakan kebudayaan Indonesia, khususnya kebudayaan ronggeng, dan berlatar waktu khususnya pada masa tragedi 1965 dan kejadian-kejadian sesudahnya. Buku ini juga berisi kritik kepada adat Indonesia dan juga sikap pemerintah (nggak heran pernah dilarang Orde Baru ^_^)
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan puncak pencapaian sastra Tohari sejauh ini. Bercerita tentang Srintil dan Rasus, Ronggeng memotret sebuah masa ketika Indonesia memasuki zaman gelap politik 1965. Ini novel yang lengkap: konflik kejiwaan para tokoh yang beragam, huru-hara politik, hilangnya sebuah tradisi, terdesaknya kehidupan desa.
Kepergian Rasus ternyata membuat Srintil sedih, sampai akhirnya ia bertekad untuk melawan adat desa dan arus zaman yang telah memaksanya untuk menjadi seorang ronggeng. Lalu, kisah ini terus berlanjut sampai terjadi tragedi 1965 yang menghancurkan Dukuh Paruk. Srintil dan pemuka desa ditahan karena dianggap bersangkut paut, dan lanjutannya...... baca sendiri ya (^_^)
penuh dengan kritik, Ada ambiguitas Tohari yang sangat kentara. Ia ingin meluruskan sejarah bahwa benar telah terjadi pembantaian orang yang dicap PKI, sekaligus ia juga mengutuk PKI yang telah merampas kesenian masyarakat. Sebab, setelah 1965, seni tayub punah di seluruh Jawa.
Yup, karya Ahmad Tohari ini emang pantas banget buat dibaca sama pencinta sastra Indonesia. Kisahnya, isi dan pesan yang terkandung di dalamnya, benar-benar membuatnya masuk daftar read list pencinta buku deh...
Subscribe to:
Posts (Atom)

